Komunitas Dasun Heritage Society adalah komunitas yang bergerak dalam bidang pelestarian pusaka di Desa Dasun Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang. Komunitas ini memiliki tekad untuk mengidentifikasi, mengenalkan dan melestarikan pusaka atau heritage di Desa Dasun.
| Brithday | 09-12-2016 |
|---|---|
| Call | +62 895-4124-99678 |
| pusakabaharidasun@gmail.com | |
| Website | https://pusakadasun.blogspot.com/ |
Komunitas Dasun Heritage Society adalah komunitas yang bergerak dalam bidang pelestarian pusaka di Desa Dasun Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang.
Komunitas ini memiliki tekad untuk mengidentifikasi, mengenalkan dan melestarikan pusaka atau heritage di Desa Dasun.
Membukukan kekayaan pusaka Desa Dasun dengan cara melakukan penelitian yang komprehensif, partisipatif, dan mendalam
Membuat produk digital dari hasil penelitian pusaka dalam bentuk fotografi dan videografi yang dishare di website dan media sosial
Melakkan followup hasil kajian pusaka desa Dasun dalam bentuk menyusun daya pancar untuk pemajuan pusaka desa Dasun
Mengumpulkan, merawat, dan melestarikan data pusaka desa Dasun dalam bentuk Bank Data Pusaka Desa Dasun
Bersinergi dan bekerjasama dengan komunitas dan lembaga terkait dalam memanfaatkan Pusaka Desa Dasun untuk pemajuan Desa Dasun
Menyelenggarakan event pusaka desa Dasun yang bertujuan meningkatkan nilai tawar pusaka desa Dasun
Dasun Jejak Langkah dan Visi Kemajuannya adalah buku dasun pertama yang berhasil diterbitkan. Exsan Ali Setyonugroho adalah penulis sekaligus Ketua Program penyusunan buku pertama. Cetakan pertama buku ini diterbitkan Lintas Nalar Yogyakarta, nomor ISBN 978-623-7212-62-1, dengan editor Dwi Cipta.
Buku kali kedua yang telah diterbitkan adalah Pemajuan Kebudayaan Desa Dasun dengan penulis Angga Hermansah. Cetakan pertama buku ini diterbitkan CV Lintas Nalar Yogyakarta, nomor ISBN 978-623-5517-17-9, dengan editor yang sama yaitu Dwi Cipta.
Buku ketiga yang akan diproduksi adalah tentang Rempah Desa Dasun. Buku ini rencana yang disusun oleh Achmad Sholeh Syarifudin. Penelitian awal telah dimulai sejak awal tahun 2022 ini. Buku ini direncakan segera terbit untuk melengkapi data pusaka desa Dasun.
Buku kali keempat yang telah diterbitkan adalah Sungutan Tambak Dasun dengan penulis Angga Hermansah. Cetakan pertama buku ini masih dalam proses diterbitkan CV Lintas Nalar Yogyakarta, nomor ISBN dalam proses, dengan editor yang sama yaitu Dwi Cipta.
Buku kali kelima yang telah diterbitkan adalah Sungai Lasem dengan penulis Angga Hermansah. Cetakan pertama buku ini masih dalam proses diterbitkan CV Lintas Nalar Yogyakarta, nomor ISBN dalam proses, dengan editor yang sama yaitu Dwi Cipta.
DHS itu dibentuk tahun 2016 dengan harapan sebagai wadah kebersamaan kawula muda Dasun untuk menggagas kemajuan desa. Prestasi membanggakan dari pergerakan DHS yaitu Dasun menjadi JUuara Nadional Perpus Seru Award tahun 2018 dan Juara Umum Pokdarwis Provinsi Jateng tahun 2018 pula. Dua capaian itu yang sangat membanggakan. Dan sampaikan sekarang DHS masih memberikan pengabdiannya menuju Pemajuan Kebudayaan Desa Dasun.
Sejak awal berdirinya Dasun Heritage Society (DHS), Desa Dasun memiliki beragam kegiatan kreatif dalam melestarikan potensi alam dan budayanya. Mulai dari pendataan potensi, pembuatan film dokumenter, peningkatan literasi melalui perpustakaan, dukungan kegiatan kebudayaan, sampai penyusunan buku. Dasun Heritage Society (DHS) selalu menjadi yang terdepan mengidentifikasi, mengenalkan dan melestarikan warisan Desa Dasun.
Komunitas Dasun Heritahe society merupakan ruang aktivitas bagi masyarakat Desa Dasun dalam mengekspresikan setiap kegiatan kebudayaan yang mampu memberikan kebermanfaatan bagi banyak orang. Komunitas ini dibentuk sebagai langkah stategis guna merangkul berbagai elemen masyarakat untuk menyatukan fikiran dan tujuan untuk kemajuan bersama.
Kekompakan DHS dalam memperkenalkan kembali kebudayaa Desa Dasun juga tidak main-main, dalam program pemajuan kebudayaan desa dari KEMENDIGBUDRISTEK , DHS membuat miniatur kebudayaan yang mana bisa dikenalkan langsung kepada anak-anak Desa Dasun dan dipamerkan setiap ada kegiatan desa. Berkat adanya Festival Bandeng mrico yang dijalankan oleh DHS, daya warga dan warga Desa Dasun di pantai Dasun bukan hanya sekedar mendatangkan wisatawan untuk datang ke pantai tetapi adanya festival bandeng mrico ini membuktikan bahwa Desa Dasun bukan hanya akan kaya dengan sejarah tetapi juga kaya dengan budayanya yang memamng patut di pertahankan.
Mustika Rasa bukan sekadar buku resep biasa. Ia adalah sebuah arsip kultural yang merekam narasi mendalam di balik setiap santapan, mengingatkan kita akan kekayaan pangan lokal yang melimpah di sekitar kita. Lebih dari sekadar cara memasak, buku ini adalah panggilan untuk kembali mengenal dan menghargai sumber makanan yang ada di halaman rumah, pot bunga, dan lingkungan kita sendiri—sesuatu yang sering terlupakan di tengah kesibukan kota dan rutinitas kehidupan modern.
Buku ini lahir dari semangat berdikari ala Bung Karno, presiden pertama Indonesia yang memaknai kemandirian bukan hanya sebagai konsep politik, tetapi juga ekologi dan budaya. Berdiri di atas kaki sendiri, dalam konteks pangan, berarti tidak tergantung pada rantai pasok global yang rapuh, melainkan menggali dan mengolah potensi lokal sebagai sumber kehidupan yang berkelanjutan.
Resep-resep yang tersaji di Mustika Rasa bukan sekadar murah dan sehat, tetapi juga merupakan warisan turun-temurun yang telah melalui ujian waktu dan budaya. Di balik setiap hidangan tersemat makna kebersamaan, adaptasi ekologis, dan kearifan lokal yang memperkaya keberagaman kuliner Nusantara. Setiap bahan berasal dari alam sekitar, mengajarkan kita cara hidup yang selaras dengan lingkungan, di mana dapur menjadi panggung keseimbangan antara manusia dan alam.
Namun, dalam realitas saat ini, masalah pangan tak hanya soal ketersediaan, melainkan juga pengetahuan dan budaya. Ketergantungan pada produk industri yang didukung oleh agresivitas iklan bernilai miliaran dolar tiap tahun telah membentuk selera dan gaya hidup yang jauh dari kesadaran ekologis. Praktik konsumsi ini merenggut kemampuan kita mengenali dan memanfaatkan sumber pangan lokal yang sebenarnya sangat melimpah di sekitar—dari laut, sungai, hutan hingga dataran tinggi.
Indonesia sebagai negara mega-biodiversitas dengan sekitar 50 ekosistem menawarkan sumber daya pangan yang luar biasa, namun pengetahuan tentang pemanfaatan dan pengelolaannya semakin pudar. Warisan leluhur, yang terukir di relief candi Borobudur maupun tersembunyi dalam motif wastra Nusantara, menjadi petunjuk berharga betapa masyarakat masa lalu memandang alam sebagai bagian integral kehidupan budaya dan spiritual.
Mustika Rasa menegaskan pentingnya merawat dan memperbarui repositori pengetahuan ini. Buku ini melanjutkan tradisi mencatat dan menyebarkan kearifan pangan yang diwariskan secara lisan maupun tertulis, sekaligus menjadi pijakan bagi kesadaran kolektif dalam menghadapi tantangan krisis pangan masa kini—krisis yang ironis menghinggapi negeri yang kaya sumber alam.
Krisis seperti stunting dan kurang gizi di beberapa wilayah Indonesia mengingatkan kita bahwa manakala pengetahuan hilang, ketergantungan pada produk industri dan impor meningkat, menyebabkan kerawanan pangan semakin tinggi. Di titik ini, inisiatif seperti Sekolah Seniman Pangan dari Zahara Indonesia hadir sebagai pencerah, menggali dan menghidupkan kembali potensi pangan lokal lewat pelatihan pengelolaan dan pengolahan bahan mentah dari alam sekitar dengan standar kesehatan dan kualitas tinggi.
Fakta menariknya, hotel, restoran, dan kafe yang sebelumnya mengandalkan bahan baku impor kini mulai mengakses sumber lokal dengan biaya lebih murah dan kualitas tak kalah bersaing. Ini adalah contoh kongkret bagaimana kearifan lokal dan inovasi dapat berkolaborasi, membangun ekonomi yang berkelanjutan dan menyehatkan.
Ditulis lebih dari setengah abad lalu, Mustika Rasa tetap relevan sebagai pengingat sekaligus pengarahan bagi kita semua untuk membangun ulang hubungan kita dengan alam, makanan, dan budaya kita—berdikari dalam arti paling mendalam. Buku ini membuka cakrawala tentang bagaimana kebudayaan pangan bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal identitas, keberlanjutan, dan kemandirian bangsa.
Masa kini menuntut revitalisasi berbagai inisiatif kearifan lokal dan berbasis sumber daya lingkungan di tengah tantangan global yang terus berubah. Semangat Mustika Rasa adalah panggilan untuk bergerak, mengorganisasi pengetahuan kolektif, dan merajut masa depan berkelanjutan dari akar yang dalam: pangan lokal yang sehat, enak, dan penuh cerita.
+++
Sumber: Disarikan dari Video "Mustika Rasa: Pangan Lokal yang Sehat, Enak, Murah dan Mindful | #KulturWawas" oleh Jalin (YouTube)[transkrip video]
Festival kebudayaan di Indonesia bukan sekadar ritual perayaan, melainkan medan dialektika antara pelestarian tradisi dan tuntutan relevansi kontemporer. Indonesia, dengan kekayaan budaya yang luar biasa, menyelenggarakan ribuan festival setiap tahun di berbagai daerah. Namun, tidak semua festival berdampak signifikan secara ekonomi dan sosial. Dari pengalaman Festival Kota Lama Semarang, kita belajar pentingnya mengadopsi praktik global—seperti model Edinburgh yang menghasilkan pengembalian ekonomi lima kali lipat dari investasi festival—untuk menjadikan festival bukan hanya perayaan tapi juga penggerak ekonomi lokal.
Dalam proses penyelenggaraan, sering muncul ketegangan antara mempertahankan kemurnian tradisi dan menjadikan festival relevan bagi generasi muda dan masa kini. Kurasi yang kuat sangat diperlukan agar substansi budaya—makna gerak, bunyi, simbol—terjaga tanpa kaku dan tetap komunikatif. Generasi muda mencoba inovasi melalui penggunaan elemen kontemporer seperti pencahayaan artistik dan musik modern, bukan untuk menggantikan tradisi, tapi memperluas interpretasi agar mudah dipahami.
Tren sejarah menunjukkan bahwa tradisi sejatinya adalah inovasi yang sudah teruji oleh waktu. Contoh batik, awalnya hanya kain tradisional kini berubah menjadi busana resmi yang diterima luas, menandai dinamika budaya yang hidup. Dialog kuratorial yang berimbang menjadi kunci agar pembaruan tidak kehilangan akar historis dan nilai-nilai budaya yang melekat.
Kesuksesan festival juga sangat bergantung pada dukungan struktural: logistik, peningkatan kapasitas teknis melalui pelatihan kurator dan pengelola, serta kebijakan yang profesional dan bebas dari politisasi. Visi pemerintah daerah, know-how teknis, dan hubungan harmonis antara pelaku budaya dan birokrasi menjadi faktor penentu kualitas dan keberlanjutan festival.
Partisipasi publik yang luas menjadi ujung tombak keberhasilan festival. Festival yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat, dari seniman sampai pelajar, sanggup menjadi ruang inklusif yang tidak hanya eksklusif bagi segelintir pihak. Festival adalah ruang sosial yang mempertemukan berbagai komunitas untuk berdialog, memperkuat solidaritas, dan membangun kesadaran kolektif.
Sebagai wahana demokrasi budaya, festival harus menempatkan identitas inklusif sebagai fondasi, membuka diri pada perubahan sekaligus setia pada akar historisnya. Dengan kesadaran kolektif ini, festival kebudayaan dapat berkelanjutan dan bermakna dalam konteks sosial-politik Indonesia saat ini.
+++
Sumber: Disarikan dari Hilmar Farid: Dinamika Festival Kebudayaan di di Tengah Masyarakat | JalinMinds (https://youtu.be/oVyUvzeOPXo)
| No. | Jenis Visualisasi Data | Prompt | Atribut / Detail yang Diminta | Output yang Diharapkan |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Peta Geospasial Interaktif - Multi Kategori & Layer Dinamis | Buat peta interaktif cagar budaya di Kabupaten X yang menampilkan kategori objek: bangunan (titik merah), artefak (titik biru), situs alam (titik hijau), dan kawasan bersejarah (poligon oranye transparan). Tambahkan layer zonasi perlindungan dan heatmap kondisi fisik 5 tahun terakhir. Sertakan tooltip yang memuat nama, tahun, status perlindungan, tingkat kerusakan, foto, dan narasi singkat. Fitur filter kategori, periode sejarah, status hukum, dan fungsi pencarian lokasi dengan koordinat desimal WGS84. Layout responsif dengan penyamaran koordinat sensitif. | Kategori objek (warna dan simbol berbeda), layer zonasi dan heatmap, tooltip detail (nama, tahun, status, foto, kerusakan, narasi), filter interaktif (kategori, periode, status), pencarian lokasi (koordinat WGS84), tema warna budaya, keamanan data. | Peta interaktif komprehensif dengan multi-layer dan fitur analisis yang mudah digunakan. Informasi lengkap dan kontekstual dengan perlindungan data sensitif. Memudahkan pengambilan keputusan dan edukasi budaya. |
| 2 | Peta Geospasial dengan Timeline & Statistik Pengunjung | Buat peta interaktif cagar budaya di Kabupaten X dengan titik berwarna berdasarkan kategori (bangunan merah, artefak biru, situs alam hijau). Sertakan timeline visual perubahan kondisi fisik dan status perlindungan selama 20 tahun dengan grafik heatmap temporal. Tooltip berisi nama, tahun penemuan, status perlindungan, foto terbaru, dan statistik pengunjung. Tambahkan fitur filter kondisi, periode, dan pengunjung. Sediakan mode offline dan tampilan responsif mobile/desktop. | Warna kategori objek, timeline kondisi & status, tooltip dengan data sejarah dan kunjungan, filter dinamis (periode, kondisi, pengunjung), mode offline, desain responsif. | Visualisasi yang menampilkan dinamika perubahan fisik dan pemanfaatan situs secara temporal, dengan akses luas meskipun tanpa koneksi internet. Memudahkan monitoring kondisi dan pengelolaan kunjungan wisata. |
| 3 | Peta Geospasial Interaktif dengan Rute Wisata & Multimedia | Buat peta interaktif cagar budaya di Kabupaten X dengan titik bangunan (merah), artefak (biru), situs alam (hijau), dan jalur rute wisata (garis kuning). Tambahkan layer overlay zonasi budaya, kawasan rawan bencana, dan jaringan transportasi. Tooltip berisi nama, deskripsi sejarah, tahun berdiri, status perlindungan, foto, video 360°, dan tautan arsip digital. Lengkapi dengan fitur rute otomatis berdasarkan minat dan jarak. Fitur filter kategori, kondisi fisik, status hukum, dan dukungan tampilan offline di desktop / mobile. | Titik dan garis berwarna sesuai kategori, layer tambahan overlay, tooltip multimedia (foto, video, arsip), rute otomatis, filter interaktif, dukungan offline, desain perangkat lintas platform. | Peta integratif yang menggabungkan edukasi, pelestarian, dan pariwisata dengan elemen multimedia dan navigasi interaktif. Meningkatkan pengalaman pengguna dan mendukung pengelolaan serta promosi warisan budaya secara efektif dan inovatif. |
| No. | Jenis Visualisasi Data | Prompt | Atribut / Detail yang Diminta | Output yang Diharapkan |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Timeline Sejarah Klasik | Buat timeline dari tahun penemuan hingga pemugaran Cagar Budaya Y, sertakan deskripsi singkat untuk setiap peristiwa dan foto arsip di setiap titik waktu. | Tahun peristiwa, deskripsi singkat per peristiwa, foto arsip terkait | Timeline kronologis yang jelas dengan informasi ringkas dan bukti visual yang mendukung keaslian narasi. |
| 2 | Timeline dengan Narasi Kontekstual | Buat timeline komprehensif mulai dari penemuan, perubahan status, hingga pemugaran Cagar Budaya Y, setiap titik waktu dilengkapi dengan deskripsi konteks sejarah, tokoh terkait, dan foto arsip relevan. | Tahun peristiwa, konteks sejarah singkat, tokoh penting, foto arsip | Timeline informatif dengan detail konteks tambahan yang memperkaya pemahaman historis dan autentikasi visual. |
| 3 | Timeline Interaktif dengan Multimedia | Buat timeline interaktif Cagar Budaya Y dari penemuan hingga restorasi dengan deskripsi singkat, foto arsip, dan tautan video dokumentasi pada beberapa titik waktu penting. | Tahun, deskripsi singkat, file foto arsip, tautan video | Timeline yang mendukung interaktivitas dan multimedia, meningkatkan keterlibatan dan pengalaman edukasi pengguna. |
| No. | Jenis Visualisasi Data | Prompt | Atribut / Detail yang Diminta | Output yang Diharapkan |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Dashboard Integratif Dasar | Buat dashboard interaktif yang memuat peta lokasi cagar budaya, grafik jumlah per kategori, dan foto kondisi terbaru. Sertakan fitur filter berdasarkan periode sejarah dan status hukum. | Peta lokasi, grafik kategori, foto terbaru, filter periode sejarah, filter status hukum | Dashboard terpadu yang memudahkan analisis dan monitoring data cagar budaya secara visual dan interaktif. |
| 2 | Dashboard dengan Grafik Tren | Kembangkan dashboard interaktif yang menampilkan peta lokasi cagar budaya, grafik tren jumlah objek dari waktu ke waktu per kategori, dan galeri foto kondisi terkini. Tambahkan filter berdasarkan tahun dan kategori objek. | Peta lokasi, grafik tren waktu, kategori, galeri foto, filter tahun dan kategori | Dashboard analitis yang menyediakan wawasan perubahan jumlah cagar budaya seiring waktu, dilengkapi visual terkini. |
| 3 | Dashboard Komprehensif Interaktif | Buat dashboard interaktif lengkap yang berisi peta lokasi cagar budaya dengan multi-layer (kategori, zona perlindungan), grafik jumlah per kategori dan status hukum, foto kondisi terbaru, serta filter lanjutan (periode, status hukum, kategori, area geografis). | Multi-layer peta, grafik kategori dan status, foto terbaru, filter lanjutan (periode, status, kategori, area) | Dashboard analitik dan pelaporan yang komprehensif, memudahkan evaluasi, pengambilan keputusan, dan edukasi publik. |
| No | Jenis Data | Prompt | Atribut / Detail yang Diminta | Output yang Diharapkan |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Transkripsi Wawancara | “Transkripsikan data lengkap wawancara masyarakat di sekitar situs cagar budaya, sertakan konteks sosial dan budaya yang relevan.” | - Isi wawancara lengkap - Bahasa dan dialek lokal (jika ada) - Konteks sosial dan budaya sekitar lokasi | Transkrip lengkap narasi wawancara dengan penjelasan konteks sosial dan budaya dalam format teks terstruktur (misal paragraf dengan catatan tambahan) |
| 2 | Ekstraksi Informasi Dokumen | “Ekstrak informasi penting dari dokumen sejarah cagar budaya seperti nama tokoh, tanggal, dan konteks peristiwa, dalam lima poin ringkas.” | - Nama tokoh utama - Tanggal atau periode waktu - Lokasi atau tempat peristiwa - Konteks dan latar belakang peristiwa | Ringkasan dalam lima poin terstruktur, bisa berupa daftar atau tabel dengan kolom nama tokoh, tanggal, dan konteks singkat |
| No | Jenis Data | Prompt | Atribut / Detail yang Diminta | Output yang Diharapkan |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Penyusunan Database | “Susun database tersusun atas koleksi benda-benda cagar budaya yang mencakup nama, bahan, fungsi, kondisi fisik, lokasi penemuan, dan nilai sejarah.” | - Nama benda - Bahan pembuat - Fungsi atau kegunaan - Kondisi fisik saat inventarisasi - Lokasi penemuan (alamat atau koordinat GPS) - Nilai sejarah atau keterangan khusus | Database terstruktur (misal CSV atau JSON) lengkap dengan atribut yang diminta |
| 2 | Deskripsi Rinci Benda | “Buat deskripsi rinci benda cagar budaya menggunakan data survei lapangan yang memuat dimensi, umur, gaya seni, dan kondisi pelestarian.” | - Dimensi (panjang, lebar, tinggi atau diameter) - Perkiraan umur atau tahun pembuatan - Gaya seni atau motif - Kondisi pelestarian (baik, rusak, perlu perbaikan) | Narasi deskriptif detail yang menggambarkan benda berdasarkan data survei lapangan |
| 3 | Digitalisasi Katalog | “Digitalisasi data katalog manual benda cagar budaya ke format digital yang mudah diakses dan dicari.” | - Data katalog manual (nama, foto, nomor registrasi, keterangan) - Pengorganisasian data dalam format digital yang mudah pencarian dan sorting | Data katalog digital dalam format database atau spreadsheet yang user-friendly dan dapat dicari/filter |
| No | Jenis Data | Prompt | Atribut / Detail yang Diminta | Output yang Diharapkan |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Inventarisasi Bangunan | “Inventarisasi bangunan cagar budaya dengan data lengkap seperti nama, alamat, tahun bangunan, arsitek, status pelestarian, dan kondisi fisik terkini.” | - Nama bangunan - Alamat lengkap - Tahun pembangunan - Nama arsitek (jika ada) - Status pelestarian - Kondisi fisik terkini | Database terstruktur berisi data lengkap atribut di atas, siap untuk pelaporan dan analisis |
| 2 | Digitalisasi Survei | “Digitalisasi hasil survei bangunan cagar budaya menjadi database dengan atribut desain, bahan bangunan, dokumentasi foto, dan lokasi GPS.” | - Informasi desain arsitektur - Jenis bahan bangunan inti - Foto dokumentasi bangunan - Koordinat GPS lokasi bangunan | Data digital terintegrasi, termasuk foto dan atribut teknis sebagai basis database pelestarian |
| 3 | Integrasi Dokumen | “Integrasikan data surat keputusan pelestarian bangunan dan dokumen pendukungnya ke dalam sistem informasi penutupan.” | - Nomor dan tanggal surat keputusan - Isi ringkas surat keputusan - Dokumen pendukung seperti foto legal, peta, atau arsip digital | Data dokumen resmi terintegrasi dalam sistem informasi cagar budaya untuk akses dan pemantauan |
| No | Jenis Data | Prompt | Atribut / Detail yang Diminta | Output yang Diharapkan |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Database Struktur Cagar Budaya | "Buat database struktur cagar budaya (jembatan, terowongan, benteng) dengan atribut nama, lokasi GPS, bahan konstruksi, tahun konstruksi, kondisi fisik, dan status pelestarian." | - Nama struktur - Lokasi GPS - Bahan konstruksi - Tahun konstruksi - Kondisi fisik - Status pelestarian | Database terstruktur (misalnya CSV atau JSON) berisi data lengkap atribut di atas |
| 2 | Digitalisasi Hasil Inspeksi | "Digitalisasi data hasil inspeksi lapangan, foto rinci, dan hasil uji teknis material dari struktur cagar budaya." | - Data inspeksi lapangan - Foto detail struktur - Hasil uji teknis material | Data digital lengkap, termasuk foto dan hasil uji, terintegrasi dalam sistem database atau laporan digital |
| No | Jenis Data | Prompt | Atribut / Detail yang Diminta | Output yang Diharapkan |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Inventarisasi Situs | “Inventarisasi situs cagar budaya lengkap dengan nama, koordinat GPS, luas, tipe (purbakala, organisasi kuno, reliji), temuan artefak, dan status perlindungan hukum.” | - Nama situs - Koordinat GPS - Luas area (m2 atau hektar) - Tipe situs (prasejarah, organisasi kuno, religi) - Temuan artefak - Status perlindungan hukum | Database terstruktur berisi data lengkap atribut di atas, siap untuk pelaporan dan pemetaan |
| 2 | Digitalisasi Survei | “Digitalisasi survei lapangan cagar budaya dengan catatan observasi, dokumentasi foto, serta peta batas dalam format digital untuk pemantauan.” | - Catatan survei lapangan (observasi detail) - Dokumentasi foto terbaru - Peta batas wilayah (digital, GIS) | Data digital termasuk dokumen observasi, foto, peta digital yang bisa dipakai untuk monitoring dan analisis |
Oleh Angga Hermansah*
Dasun, desa yang terletak di pesisir utara Pulau Jawa dengan garis pantai terpanjang se Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang, memiliki luas wilayah yang didominasi dengan pertambakan dengan batas wilayah yang dikelilingi oleh sungai dan lautan. Dengan sendirinya, dalam pemenuhan hidupannya masyarakat Dasun banyak memanfaatkan potensi air yang ada. Air erat kaitannya dengan masyarakat kami, bermacam aktivitas mata pencaharian mereka geluti dan pedomani dalam mengelola perilaku air yang tak menentu. Dari aktivitas yang dilakukan secara terus menerus dengan interaksi yang harmonis antara manusia dan alam, maka pengetahuan terbentuk secara alami dan mengakar dalam jiwa dan menjelma dalam kehidupan masyarakat.
Dengan pengetahuan yang mengakar dalam masyarakat Dasun tersebut, menandakan bahwa Dasun bukanlah Desa yang baru terbentuk. Air yang menjadi elemen utama memberi isyarat bahwa wilayah tersebut merupakan bagian dari sistem peradaban kuno yang memiliki pola hubungan dengan air dan sungai yang sangat kuat. Letak geografis yang sangat potensial dengan sumber air yang melimpah membuat aktivitas masyarakat Dasun Khususnya bagi petani tambak sangat menjanjikan. Hal tersebut yang membuat Desa Dasun terkenal akan produk bandengnya yang dikelola secara organik dengan sistem irigasi tradisional. Selain bandeng, Dasun juga memiliki produk garam yang produksi lebih dari 70 tambak yang dikelola secara tradisional oleh masyarakat setempat.
Memori Kolektif Warga
Pengetahuan tradisional telah melekat dan menjadi bagian dari ingatan yang terus diingat dan diwariskan ke generasi selanjutnya. Dalam menunjang aktivitas mata pencaharian, pengetahuan pergantian mangsa (musim) menjadi salah satu sumber pengetahuan yang menggambarkan bahwa masyarakat pesisir Jawa memiliki hubungan vertikal dan horizontal. Hubungan tersebut dapat diterjemahkan bahwa manusia memiliki keeratan dalam hubungan interaksi dengan Sang Pencipta dan alam semesta untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Salah satu pengetahuan tradisional yang sering dijumpai di berbagai daerah dan desa yaitu tentang perhitungan musim atau mangsa. Perhitungan musim seringkali menjadi pokok bahasan masyarakat desa, seperti masyarakat nelayan dan petani tambak di Desa Dasun yang sangat bergantung dengan musim dan cuaca. Kelompok nelayan perlu menghitung musim untuk menentukan waktu dan alat tangkap yang digunakan untuk pergi melaut. Dan juga para petani tambak yang memerlukan perhitungan musim untuk menentukan kapan memulai produksi garam atau mulai budidaya ikan bandeng. Pengetahuan tradisional yang berhubungan dengan kendali air inilah kemudian saya sebut dengan istilah Pranoto Banyu.
Pranoto Banyu merupakan pengetahuan dalam memahami dan menguasai pergantian dan penghitungan musim, perubahan pergerakan air sungai dan laut, tata cara pengelolaan tambak bandeng dan garam, serta tanda alam yang mempengaruhi musim tangkapan nelayan. Pengetahuan tersebut bagi masyarakat Dasun amat penting dalam menyiapkan segala sesuatu hal, baik tata cara, sikap dan perubahan yang akan terjadi pada alam. Pada akhirnya Pranoto Banyu menjadi praktik kebudayaan masyarakat Dasun dan bagian dari memori kolektif yang tersimpan di dalam pikiran dan perilaku manusianya.
Ruang Ekspresi Baru
Keluar dari khasanah pewarisan pengetahuan alami, ruang baru tercipta dalam kerja kolaboratif. Petani tambak yang biasanya hanya mengatur kualitas air tambak saat budidaya bandeng dan kerja keras berkeringat untuk menghasilkan sebutir kristal garam, dengan inisiatif Eggy Yunaedi sebagai perupa mencoba untuk meluaskan perspektif masyarakat terhadap fungsi garam. Berkolaborasi bersama Eggy Yunaedi petani garam memperlakukan garam sebagai media seni rupa alternatif yang berbicara tentang tambak dan kehidupan mereka sendiri.
Kolaborasi kali ini membawa nuansa baru bagi petani garam. Kegiatan kolaborasi pameran lukisan garam dilaksanakan di Sangkring Art Space Yogjakarta dengan kondisi suhu yang berbeda dengan wilayah pertambakan desa Dasun. Setelah pada tahun lalu membuat karya Bancaan Rupa, yang berbicara tentang elemen alam dan budaya yang mempengaruhi kehidupan petani garam, kali ini mereka mencoba menggarap tema besar Pranata Banyu yang mengusung dua musim peralihan yang dikenal oleh masyarakat Dasun dengan istilah Mongso Laboh dan Mongso Mareng. Pengetahuan yang kuat mengakar mengenai tanda-tanda alam dan perilaku hewan di dua fase pergantian musim kemarau ke musim penghujan atau sebaliknya itu, serta kearifan yang ada di dalamnya menjadi bahan bagi petani garam Dasun bersama Eggy Yunaedi untuk dituangkan dalam lukisan garam dalam Pameran Lukisan Garam Pranoto Banyu.
*) Warga Desa Dasun, Penulis buku Pemajuan Kebudayaan Desa Dasun dan Pranata Banyu
Foto : Tugino sedang melaksanakan aktivitas nganco di sungai Dasun (fotografer : A. Sholeh Syarifuddin, 2021)
Salah satu pengetahuan tradisional yang sering dijumpai di berbagai daerah dan desa yaitu tentang perhitungan musim atau mangsa. Perhitungan musim seringkali menjadi pokok bahasan masyarakat desa, seperti masyarakat nelayan dan petani tambak di Desa Dasun yang sangat bergantung dengan musim dan cuaca. Kelompok nelayan perlu menghitung musim untuk menentukan waktu dan alat tangkap yang digunakan untuk pergi melaut. Dan juga para petani tambak yang memerlukan perhitungan musim untuk menentukan kapan memulai produksi garam atau mulai budidaya ikan bandeng. Pengetahuan tradisional yang berhubungan dengan kendali air inilah kemudian Penulis sebut dengan istilah pranoto banyu.
Pranoto banyu merupakan pengetahuan dalam memahami dan menguasai pergantian dan penghitungan musim, perubahan pergerakan air sungai dan laut, tata cara pengelolaan tambak bandeng dan garam, serta tanda alam yang mempengaruhi musim tangkapan nelayan. Pengetahuan tersebut bagi masyarakat Dasun amat penting dalam menyiapkan segala sesuatu hal, baik tata cara, sikap dan perubahan yang akan terjadi pada alam. Hal ini menjadikan pranoto banyu sebagai praktik kebudayaan masyarakat Dasun dan bagian dari memori kolektif yang tersimpan di dalam pikiran dan perilaku manusianya.
Hadirnya buku ini merupakan upaya untuk merekam memori kolektif dan praktik kebudayaan yang melekat dalam masyarakat Dasun yang kaya akan pengetahuan maritim. Terdapat tujuh bab dalam mengungkap memori kolektif pranata banyu masyarakat Dasun. Bab pertama dan bab ketujuh merupakan cerita Penulis saat melakukan penelitian memori kolektif kolektif pranata banyu sekaligus gagasan keberlanjutan Penulis dalam merespon momori kolektif tersebut. Selebihnya buku ini disajikan lima bab untuk para Penutur memori kolektif dengan pranata banyu di Desa Dasun tepatnya mulai bab dua hingga bab enam. Lima bab tersebut disajikan penuturan Informan tentang pranata banyu tambak garam oleh Bapak Sutrisno, pranata banyu tambak bandeng oleh Mbah Sidiq, pranata banyu segoro lor yang dituturkan oleh Mbah Yono atau Mbah Yono, pranata banyu segoro tambak yang dituturkan oleh Pak Dhe Nanto, dan pranata banyu Kali Dasun yang dituturkan oleh Pak Dhe Tono.
Dalam menyajikan memori kolektif pranata banyu masyarakat desa Dasun, buku ini disuguhkan dalam bentuk teks percakapan antara penulis dan informan. Percakapan memori kolektif ini di transkrip tanpa adanya penambahan dan pengurangan. Dengan penyajian tersebut, diharapkan para Pembaca buku ini seolah-olah merasakan penuturan langsung di depan Informan. Dengan suguhan teks percakapan secara langsung juga, para Pembaca dapat secara merdeka dalam menginterpretasi tentang pranata banyu yang dimiliki masyarakat Dasun. Adapun informan dipilih sesuai dengan rekomendasi masyarakat serta pengamatan dari Penulis langsung tentang aktor-aktor dalam praktik kebudayaan pranata banyu.
Pada hakikatnya, pembuatan buku ingin mengembalikan kepopuleran pengetahuan tradisional dalam bidang kemaritiman yang semakin lama semakin memudar. Padahal jika kita tarik ke belakang pada zaman kerajaan Majapahit, letak kekuatan bangsa kita berada pada praktik kemaritiman yang fasih dan tangguh dengan didasari pengetahuan tradisional yang kuat dan mengakar. Untuk mengembalikan kekuatan dan kesohoran kemaritiman itu bisa dimulai dari dan dengan hal kecil, kita sebagai penerus, mau berinteraksi, mendengar, bertanya, menanyakan ulang hasil penafsiran, menyebarluaskan, hingga mengajak generasi muda untuk melakukan pendataan memori kolektif yang dimiliki kelompok sosial khususnya tentang pranata banyu yang dimiliki masyarakat nelayan dan kelompok adat kemaritiman. , mampu menerjemahkan dan lebih baik lagi jika mampu mempraktekkan kembali dan meneruskan ke generasi selanjutnya.
Penulis ucapkan terimakasih dan salam hormat kepada para Informan yang telah menyampaikan memori kolektifnya tentang pranata banyu. Penulis juga ucapkan terimakasih kepada Pemerintah Desa Dasun yang selalu mensupport dalam proses pembuatan buku ini. Dan tak lupa juga, Penulis ucapkan terimakasih kepada keluarga dan teman-teman seperjuangan yang senantiasa mendukung dan memberikan semangat agar tetap terus berada di jalan pelestarian dan pemajuan kebudayaan agar nilai-nilai kebudayaan tetap terus diwariskan ke generasi selanjutnya.
Salam Lestari,,
Yogyakarta, 07 Maret 2024
Sejak awal berdirinya Dasun Heritage Society (DHS), Desa Dasun memiliki beragam kegiatan kreatif dalam melestarikan potensi alam dan budayanya. Mulai dari pendataan potensi, pembuatan film dokumenter, peningkatan literasi melalui perpustakaan, dukungan kegiatan kebudayaan, sampai penyusunan buku. Dasun Heritage Society (DHS) selalu menjadi yang terdepan mengidentifikasi, mengenalkan dan melestarikan warisan Desa Dasun.