About Me

Dasun Heritage.

Komunitas Dasun Heritage Society adalah komunitas yang bergerak dalam bidang pelestarian pusaka di Desa Dasun Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang. Komunitas ini memiliki tekad untuk mengidentifikasi, mengenalkan dan melestarikan pusaka atau heritage di Desa Dasun.

Brithday 09-12-2016
Call +62 895-4124-99678
Email pusakabaharidasun@gmail.com
Website https://pusakadasun.blogspot.com/
Download CV Hire Me

My Skill

Komunitas Dasun Heritage Society adalah komunitas yang bergerak dalam bidang pelestarian pusaka di Desa Dasun Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang.

Komunitas ini memiliki tekad untuk mengidentifikasi, mengenalkan dan melestarikan pusaka atau heritage di Desa Dasun.

Penelitian
Festival Wisata
Pemberdayaan Komunitas
Pelestari Pusaka

My Services

What i offer

Penelitian Pusaka

Membukukan kekayaan pusaka Desa Dasun dengan cara melakukan penelitian yang komprehensif, partisipatif, dan mendalam

Publikasi Pusaka

Membuat produk digital dari hasil penelitian pusaka dalam bentuk fotografi dan videografi yang dishare di website dan media sosial

Daya Lenting

Melakkan followup hasil kajian pusaka desa Dasun dalam bentuk menyusun daya pancar untuk pemajuan pusaka desa Dasun

Dokumen Pusaka

Mengumpulkan, merawat, dan melestarikan data pusaka desa Dasun dalam bentuk Bank Data Pusaka Desa Dasun

Jaringan Pusaka

Bersinergi dan bekerjasama dengan komunitas dan lembaga terkait dalam memanfaatkan Pusaka Desa Dasun untuk pemajuan Desa Dasun

Pemberdayaan Pusaka

Menyelenggarakan event pusaka desa Dasun yang bertujuan meningkatkan nilai tawar pusaka desa Dasun

5

Anggota Komunitas

3

Projects Done

1

Buku

1

Kewirausahaan

My Portfolio

What i do
  • All
  • Travel
  • Photograph
  • Foods

My Experience

My Recent Experiences
Desember 2020
Buku Dasun 1

Dasun Jejak Langkah dan Visi Kemajuannya adalah buku dasun pertama yang berhasil diterbitkan. Exsan Ali Setyonugroho adalah penulis sekaligus Ketua Program penyusunan buku pertama. Cetakan pertama buku ini diterbitkan Lintas Nalar Yogyakarta, nomor ISBN 978-623-7212-62-1, dengan editor Dwi Cipta.

Desember 2021
Buku Dasun 2

Buku kali kedua yang telah diterbitkan adalah Pemajuan Kebudayaan Desa Dasun dengan penulis Angga Hermansah. Cetakan pertama buku ini diterbitkan CV Lintas Nalar Yogyakarta, nomor ISBN 978-623-5517-17-9, dengan editor yang sama yaitu Dwi Cipta.

Desember 2022
Buku Dasun ke 3

Buku ketiga yang akan diproduksi adalah tentang Rempah Desa Dasun. Buku ini rencana yang disusun oleh Achmad Sholeh Syarifudin. Penelitian awal telah dimulai sejak awal tahun 2022 ini. Buku ini direncakan segera terbit untuk melengkapi data pusaka desa Dasun.

Desember 2023
Buku Dasun 4

Buku kali keempat yang telah diterbitkan adalah Sungutan Tambak Dasun dengan penulis Angga Hermansah. Cetakan pertama buku ini masih dalam proses diterbitkan CV Lintas Nalar Yogyakarta, nomor ISBN dalam proses, dengan editor yang sama yaitu Dwi Cipta.

Desember 2023
Buku Dasun 5

Buku kali kelima yang telah diterbitkan adalah Sungai Lasem dengan penulis Angga Hermansah. Cetakan pertama buku ini masih dalam proses diterbitkan CV Lintas Nalar Yogyakarta, nomor ISBN dalam proses, dengan editor yang sama yaitu Dwi Cipta.

My Blog

Latest blog

Mustika Rasa bukan sekadar buku resep biasa. Ia adalah sebuah arsip kultural yang merekam narasi mendalam di balik setiap santapan, mengingatkan kita akan kekayaan pangan lokal yang melimpah di sekitar kita. Lebih dari sekadar cara memasak, buku ini adalah panggilan untuk kembali mengenal dan menghargai sumber makanan yang ada di halaman rumah, pot bunga, dan lingkungan kita sendiri—sesuatu yang sering terlupakan di tengah kesibukan kota dan rutinitas kehidupan modern.

Buku ini lahir dari semangat berdikari ala Bung Karno, presiden pertama Indonesia yang memaknai kemandirian bukan hanya sebagai konsep politik, tetapi juga ekologi dan budaya. Berdiri di atas kaki sendiri, dalam konteks pangan, berarti tidak tergantung pada rantai pasok global yang rapuh, melainkan menggali dan mengolah potensi lokal sebagai sumber kehidupan yang berkelanjutan.

Resep-resep yang tersaji di Mustika Rasa bukan sekadar murah dan sehat, tetapi juga merupakan warisan turun-temurun yang telah melalui ujian waktu dan budaya. Di balik setiap hidangan tersemat makna kebersamaan, adaptasi ekologis, dan kearifan lokal yang memperkaya keberagaman kuliner Nusantara. Setiap bahan berasal dari alam sekitar, mengajarkan kita cara hidup yang selaras dengan lingkungan, di mana dapur menjadi panggung keseimbangan antara manusia dan alam.

Namun, dalam realitas saat ini, masalah pangan tak hanya soal ketersediaan, melainkan juga pengetahuan dan budaya. Ketergantungan pada produk industri yang didukung oleh agresivitas iklan bernilai miliaran dolar tiap tahun telah membentuk selera dan gaya hidup yang jauh dari kesadaran ekologis. Praktik konsumsi ini merenggut kemampuan kita mengenali dan memanfaatkan sumber pangan lokal yang sebenarnya sangat melimpah di sekitar—dari laut, sungai, hutan hingga dataran tinggi.

Indonesia sebagai negara mega-biodiversitas dengan sekitar 50 ekosistem menawarkan sumber daya pangan yang luar biasa, namun pengetahuan tentang pemanfaatan dan pengelolaannya semakin pudar. Warisan leluhur, yang terukir di relief candi Borobudur maupun tersembunyi dalam motif wastra Nusantara, menjadi petunjuk berharga betapa masyarakat masa lalu memandang alam sebagai bagian integral kehidupan budaya dan spiritual.

Mustika Rasa menegaskan pentingnya merawat dan memperbarui repositori pengetahuan ini. Buku ini melanjutkan tradisi mencatat dan menyebarkan kearifan pangan yang diwariskan secara lisan maupun tertulis, sekaligus menjadi pijakan bagi kesadaran kolektif dalam menghadapi tantangan krisis pangan masa kini—krisis yang ironis menghinggapi negeri yang kaya sumber alam.

Krisis seperti stunting dan kurang gizi di beberapa wilayah Indonesia mengingatkan kita bahwa manakala pengetahuan hilang, ketergantungan pada produk industri dan impor meningkat, menyebabkan kerawanan pangan semakin tinggi. Di titik ini, inisiatif seperti Sekolah Seniman Pangan dari Zahara Indonesia hadir sebagai pencerah, menggali dan menghidupkan kembali potensi pangan lokal lewat pelatihan pengelolaan dan pengolahan bahan mentah dari alam sekitar dengan standar kesehatan dan kualitas tinggi.

Fakta menariknya, hotel, restoran, dan kafe yang sebelumnya mengandalkan bahan baku impor kini mulai mengakses sumber lokal dengan biaya lebih murah dan kualitas tak kalah bersaing. Ini adalah contoh kongkret bagaimana kearifan lokal dan inovasi dapat berkolaborasi, membangun ekonomi yang berkelanjutan dan menyehatkan.

Ditulis lebih dari setengah abad lalu, Mustika Rasa tetap relevan sebagai pengingat sekaligus pengarahan bagi kita semua untuk membangun ulang hubungan kita dengan alam, makanan, dan budaya kita—berdikari dalam arti paling mendalam. Buku ini membuka cakrawala tentang bagaimana kebudayaan pangan bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal identitas, keberlanjutan, dan kemandirian bangsa.

Masa kini menuntut revitalisasi berbagai inisiatif kearifan lokal dan berbasis sumber daya lingkungan di tengah tantangan global yang terus berubah. Semangat Mustika Rasa adalah panggilan untuk bergerak, mengorganisasi pengetahuan kolektif, dan merajut masa depan berkelanjutan dari akar yang dalam: pangan lokal yang sehat, enak, dan penuh cerita.
+++

Sumber: Disarikan dari Video "Mustika Rasa: Pangan Lokal yang Sehat, Enak, Murah dan Mindful | #KulturWawas" oleh Jalin (YouTube)[transkrip video]

Festival kebudayaan di Indonesia bukan sekadar ritual perayaan, melainkan medan dialektika antara pelestarian tradisi dan tuntutan relevansi kontemporer. Indonesia, dengan kekayaan budaya yang luar biasa, menyelenggarakan ribuan festival setiap tahun di berbagai daerah. Namun, tidak semua festival berdampak signifikan secara ekonomi dan sosial. Dari pengalaman Festival Kota Lama Semarang, kita belajar pentingnya mengadopsi praktik global—seperti model Edinburgh yang menghasilkan pengembalian ekonomi lima kali lipat dari investasi festival—untuk menjadikan festival bukan hanya perayaan tapi juga penggerak ekonomi lokal.

Dalam proses penyelenggaraan, sering muncul ketegangan antara mempertahankan kemurnian tradisi dan menjadikan festival relevan bagi generasi muda dan masa kini. Kurasi yang kuat sangat diperlukan agar substansi budaya—makna gerak, bunyi, simbol—terjaga tanpa kaku dan tetap komunikatif. Generasi muda mencoba inovasi melalui penggunaan elemen kontemporer seperti pencahayaan artistik dan musik modern, bukan untuk menggantikan tradisi, tapi memperluas interpretasi agar mudah dipahami.

Tren sejarah menunjukkan bahwa tradisi sejatinya adalah inovasi yang sudah teruji oleh waktu. Contoh batik, awalnya hanya kain tradisional kini berubah menjadi busana resmi yang diterima luas, menandai dinamika budaya yang hidup. Dialog kuratorial yang berimbang menjadi kunci agar pembaruan tidak kehilangan akar historis dan nilai-nilai budaya yang melekat.

Kesuksesan festival juga sangat bergantung pada dukungan struktural: logistik, peningkatan kapasitas teknis melalui pelatihan kurator dan pengelola, serta kebijakan yang profesional dan bebas dari politisasi. Visi pemerintah daerah, know-how teknis, dan hubungan harmonis antara pelaku budaya dan birokrasi menjadi faktor penentu kualitas dan keberlanjutan festival.

Partisipasi publik yang luas menjadi ujung tombak keberhasilan festival. Festival yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat, dari seniman sampai pelajar, sanggup menjadi ruang inklusif yang tidak hanya eksklusif bagi segelintir pihak. Festival adalah ruang sosial yang mempertemukan berbagai komunitas untuk berdialog, memperkuat solidaritas, dan membangun kesadaran kolektif.

Sebagai wahana demokrasi budaya, festival harus menempatkan identitas inklusif sebagai fondasi, membuka diri pada perubahan sekaligus setia pada akar historisnya. Dengan kesadaran kolektif ini, festival kebudayaan dapat berkelanjutan dan bermakna dalam konteks sosial-politik Indonesia saat ini.

+++

Sumber: Disarikan dari Hilmar Farid: Dinamika Festival Kebudayaan di di Tengah Masyarakat | JalinMinds (https://youtu.be/oVyUvzeOPXo)

1. Pendahuluan
- Latar belakang pentingnya analisis data cagar budaya dalam pelestarian warisan budaya.
- Penjelasan tentang klasifikasi jenis data cagar budaya menurut UU Kebudayaan terbaru dan literatur akademik (benda, bangunan, struktur, situs, kawasan).
- Hubungan antara jenis data dan teknik analisis yang digunakan dalam konteks pembangunan prompt analisis data.
- Tujuan dan ruang lingkup artikel.

2. Tinjauan Pustaka
- paparan tentang analisis data cagar budaya 
- Konsep prompt engineering dalam kecerdasan buatan (AI) dan peranannya pada analisis data cagar budaya.
- Studi dan praktik terbaik dalam analisis data tiap jenis cagar budaya, termasuk teknik GIS, modeling 3D, analisis temporal, dan kualitatif-kuantitatif.
- Pentingnya sensitivitas budaya dan etika dalam analisis serta penulisan prompt.

3. Metodologi
- Pendekatan pengembangan teknik penulisan prompt yang mempertimbangkan perbedaan karakteristik jenis data.
- Sumber data (lapangan, arsip, wawancara, data digital) dan karakteristik spesifik tiap jenis cagar budaya.
- Metode validasi hasil analisis melalui kolaborasi dengan ahli budaya, teknisi, dan komunitas lokal.

4. Jenis Data Cagar Budaya dan Teknik Analisis dalam Penulisan Prompt

4.1 Benda Cagar Budaya
- Karakteristik data benda (artefak, manuskrip, alat tradisional).
- Teknik analisis: klasifikasi tipologi, dokumentasi digital & 3D modeling, analisis historis dan survei kualitatif.
- Penulisan prompt yang memperhatikan keautentikan data dan sensitivitas budaya terkait benda bergerak dan tidak bergerak.
- Contoh prompt analisis data benda.

4.2 Bangunan Cagar Budaya
- Data bangunan: kondisi fisik, arsitektural, konservasi.
- Teknik analisis: GIS spasial, Building Information Modeling (BIM), analisis temporal kondisi fisik, risiko dan simulasi pelestarian.
- Penulisan prompt dengan fokus aspek teknis dan nilai budaya bangunan.
- Contoh prompt analisis data bangunan.

4.3 Struktur Cagar Budaya
- Data struktur fisik alam atau buatan (jembatan kuno, lanskap budaya).
- Teknik analisis: pemetaan geomorfologi dan fisik, remote sensing, studi risiko alam.
- Pengembangan prompt analisis struktur yang mengutamakan aspek fisik dan sejarah.
- Contoh prompt analisis data struktur.

4.4 Situs Cagar Budaya
- Data lokasi atau area yang menyimpan artefak, bangunan, atau struktur.
- Teknik analisis: pemetaan arkeologi, timeline sejarah, studi kontekstual dan multidisipliner.
- Penulisan prompt untuk menggabungkan berbagai sumber data dengan sensitivitas budaya tinggi.
- Contoh prompt analisis data situs.

4.5 Kawasan Cagar Budaya
- Data ruang geografis berisi kumpulan situs dan pola fungsi budaya.
- Teknik analisis: GIS lanskap budaya, analisis pola tata ruang dan sosial-ekologi.
- Penulisan prompt yang mendukung pengelolaan data multi-layer dan integratif.
- Contoh prompt analisis data kawasan.

5.  Evaluasi, Validasi, dan Etika Penulisan Prompt Analisis
- Prosedur validasi analisis melibatkan pemangku kepentingan (ahli budaya, teknisi GIS, komunitas).
- Metode validasi teknis dan kultural: triangulasi data, uji coba iteratif prompt.
- Etika penggunaan data sensitif, perlindungan informasi lokasi rawan, dan pencegahan distorsi budaya.
- Pendekatan inklusif dan transparansi dalam proses analisis dan penyajian hasil.

6. Diskusi
- Tantangan dan solusi dalam menyesuaikan prompt analisis dengan karakteristik jenis data yang beragam.
- Implikasi hasil analisis untuk kebijakan pelestarian, edukasi, dan pengambilan keputusan.
- Peran teknologi kecerdasan buatan, kolaborasi multidisipliner, dan inovasi digital dalam pengembangan prompt.

7. Kesimpulan dan Rekomendasi
- Ringkasan pentingnya kesesuaian jenis data cagar budaya, teknik analisis, dan penyusunan prompt analisis yang budaya-sensitif.
- Rekomendasi untuk perbaikan prompt engineering dan penerapan teknologi di bidang pelestarian budaya.
- Saran untuk penelitian lanjutan dan pengembangan metode prompt yang adaptif terhadap kebutuhan cagar budaya.

### 8. Daftar Pustaka
- Daftar referensi akademik, regulasi UU, dan sumber literatur terpercaya dalam bidang cagar budaya dan teknik prompt.

Pendahuluan 

Visualisasi data dalam konteks cagar budaya bukan sekadar alat presentasi yang memperindah penyajian informasi, melainkan juga merupakan instrumen penting dalam pelestarian pengetahuan sejarah, edukasi publik, dan pengambilan keputusan strategis terkait perlindungan warisan budaya. Sensitivitas budaya menjadi faktor krusial dalam proses visualisasi karena kesalahan dalam representasi visual dapat menimbulkan dampak serius, antara lain distorsi makna sejarah apabila simbol atau warna yang digunakan tidak sesuai dengan konteks budaya setempat, hingga pelecehan nilai lokal jika unsur visual menyinggung keyakinan atau tradisi masyarakat. Selain itu, penyebaran informasi sensitif seperti koordinat lokasi situs yang dibuka secara publik tanpa pengamanan dapat meningkatkan risiko perusakan fisik terhadap situs cagar budaya yang rentan.

Lebih jauh lagi, kesalahan visualisasi tidak hanya berdampak teknis tetapi juga sangat memengaruhi narasi identitas budaya dan aspek sosial-politik masyarakat. Narasi sejarah yang keliru berpotensi mengubah persepsi publik, memicu sengketa kepemilikan, serta menghasilkan interpretasi yang menyimpang dari fakta dan nilai budaya asli. Oleh karena itu, penulisan prompt yang tepat untuk menghasilkan visualisasi data cagar budaya yang akurat, kontekstual, dan sensitif menjadi langkah awal yang sangat penting sebagai fondasi dalam pengembangan teknologi digital ini. Sebelum membahas detail tentang penulisan prompt visualisasi data cagar budaya, berikut ini merupakan kaidah-kaidah tentang visualisasi data cagar budaya. 

Visualisasi data dalam konteks cagar budaya bukan hanya berfungsi sebagai media penyajian informasi, tetapi juga sebuah instrumen penting untuk pelestarian pengetahuan sejarah, edukasi publik, dan pengambilan keputusan strategis (Bachtiar & Jaelani, 2017). Keunikan data cagar budaya mengharuskan visualisasi memperhatikan sensitivitas budaya, akurasi spasial tinggi, dan narasi sejarah yang autentik agar tidak terjadi distorsi makna maupun pelecehan nilai lokal (Utami, 2023).

Jenis-jenis visualisasi yang sering digunakan dalam pelestarian cagar budaya mencakup beberapa bentuk yang mampu menyajikan data secara efektif dan kontekstual. Peta geospasial interaktif menjadi salah satu metode utama dengan menampilkan lokasi serta zonasi perlindungan situs, yang dilengkapi lapisan sejarah dan foto udara untuk mendukung pengelolaan dan akses data spasial secara komprehensif (Bachtiar & Jaelani, 2017; ITS, 2017). Selain itu, timeline sejarah menyajikan urutan kronologis peristiwa penting yang menghubungkan data spasial dengan konteks historis, sehingga memudahkan pemahaman aspek temporal dari warisan budaya (Undip, 2023). Diagram tipologi dan klasifikasi digunakan untuk mengelompokkan objek budaya berdasarkan periode, fungsi, dan material, dengan penggunaan ikon khas yang memperkuat nilai budaya lokal (Juniardi, 2015). Heatmap kondisi fisik memvisualisasikan area yang mengalami risiko kerusakan atau ancaman lingkungan, dan sering dipadukan dengan data cuaca terkini guna analisis pelestarian yang lebih akurat (Seruntingrum, 2023). Dashboard integratif menggabungkan berbagai komponen visual seperti peta, grafik, dan foto dalam satu platform interaktif, sehingga memudahkan monitoring dan pelaporan secara terpadu (Minaee et al., 2024). Terakhir, visualisasi 3D dan augmented reality (AR) memberikan pengalaman imersif bagi edukasi dan wisata virtual, walaupun memerlukan sumber daya teknis dan biaya yang lebih tinggi untuk implementasinya (Erlangga et al., 2023; Firdiansyah, 2019). Bersama-sama, jenis-jenis visualisasi ini memainkan peranan penting dalam memperkaya proses pelestarian dan penyebaran pengetahuan mengenai cagar budaya.

Penulisan prompt untuk visualisasi dengan kecerdasan buatan (AI) harus mengikuti prinsip-prinsip yang memastikan hasil visualisasi akurat, kontekstual, dan sensitif terhadap nilai budaya lokal. Pertama, tujuan visualisasi dan jenis grafik yang diinginkan harus dijelaskan secara eksplisit agar AI memiliki arah yang jelas dalam memproses data. Selanjutnya, variabel yang akan diplot dan format data wajib ditentukan dengan rinci untuk mencegah ambiguitas sehingga output data bisa sesuai ekspektasi. Penting juga untuk memasukkan konteks budaya dan narasi sejarah yang relevan agar hasil visualisasi memiliki sensitivitas terhadap lokalitas dan tidak menimbulkan kesalahan interpretasi budaya. Gaya visual yang digunakan harus disesuaikan dengan simbolisme budaya, seperti pemilihan warna dan ikon yang tepat, guna menghormati makna lokal. Selain itu, penulisan prompt sebaiknya menggunakan bahasa konkret yang jelas, serta dilakukan proses iteratif berupa pengujian dan revisi agar kualitas keluaran visualisasi semakin optimal dan sesuai kebutuhan (OpenAI, 2024; Minaee et al., 2024). Prinsip-prinsip ini mendukung terciptanya visualisasi yang tidak hanya informatif tetapi juga menghargai konteks historis dan kultural secara memadai.

Kesalahan dalam penulisan prompt atau implementasi visualisasi data cagar budaya berpotensi menimbulkan berbagai risiko serius, seperti distorsi sejarah dan narasi budaya yang dapat mengaburkan fakta atau nilai asli (Aji et al., 2025). Selain itu, penggunaan simbol atau warna yang tidak tepat dan tidak mempertimbangkan sensitivitas lokal dapat mengakibatkan pelecehan nilai budaya masyarakat setempat (Utami, 2023). Kesalahan spasial, misalnya ketidaktepatan penempatan lokasi yang signifikan, juga bisa memicu konflik sosial dan sengketa kepemilikan, yang berpotensi merusak harmoni komunitas (Seruntingrum, 2023). Untuk mengatasi risiko-risiko ini, mitigasi yang efektif dilakukan melalui proses validasi berlapis, melibatkan para pakar budaya yang memahami konteks sejarah dan sosial, teknisi GIS yang memastikan keakuratan data spasial, serta komunitas lokal yang menjadi pemilik nilai budaya tersebut. Selain itu, pengujian hasil visualisasi secara berulang menjadi kunci penting untuk memastikan keluaran visualisasi tidak hanya akurat secara teknis tetapi juga hormat terhadap kearifan lokal dan sensitivitas budaya (Minaee et al., 2024). Pendekatan kolaboratif dan iteratif ini merupakan fondasi utama dalam menjaga integritas dan keberlanjutan pelestarian cagar budaya melalui teknologi visualisasi.

Kolaborasi multidisipliner menjadi aspek krusial dalam pengembangan visualisasi data cagar budaya, karena melibatkan integrasi keahlian dari berbagai disiplin seperti humaniora, teknisi data, dan masyarakat lokal. Pendekatan terpadu ini memastikan bahwa visualisasi tidak hanya akurat secara teknis, tetapi juga sensitif terhadap konteks budaya dan sosial setempat, sehingga mendukung pelestarian yang lebih holistik dan berkelanjutan (Buchholz, 2023; Erlangga et al., 2023). Terlebih lagi, adopsi teknologi mutakhir seperti visualisasi 3D dan augmented reality (AR) menghadirkan tantangan besar, khususnya terkait kebutuhan biaya tinggi dan infrastruktur teknis yang memadai. Oleh karena itu, keberhasilan implementasi teknologi ini sangat bergantung pada pelatihan teknis yang memadai dan dukungan sumber daya yang kontinu, sehingga teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memperkaya pengalaman edukasi dan dokumentasi pelestarian budaya. Pendekatan kolaboratif dan kesiapan sumber daya teknis menjadi kunci keberlanjutan serta efektivitas teknologi canggih dalam menjaga dan mengkomunikasikan nilai-nilai warisan budaya kepada publik luas.

Pembahasan 

Dalam pengembangan visualisasi data cagar budaya dengan dukungan kecerdasan buatan (AI), penulisan prompt yang tepat menjadi kunci untuk menghasilkan output yang akurat, informatif, dan kontekstual. Contoh-contoh prompt berikut disusun berdasarkan jenis visualisasi yang sering digunakan dalam pelestarian budaya, seperti peta geospasial interaktif, timeline sejarah, dan dashboard integratif. Masing-masing contoh tidak hanya memperlihatkan struktur instruksi yang spesifik, tetapi juga disertai alasan pemilihan elemen visual dan fitur interaktivitas yang berfungsi mengoptimalkan pemahaman pengguna dan menjaga sensitivitas terhadap konteks budaya. Dengan memahami contoh ini, peneliti dan praktisi dapat mengadaptasi atau menyusun prompt yang sesuai dengan kebutuhan data dan tujuan pelestarian yang diinginkan.

Contoh Prompt Per Jenis Visualisasi

Peta Geospasial Interaktif

Peta geospasial interaktif merupakan salah satu bentuk visualisasi yang sangat efektif dalam pengelolaan dan pelestarian data cagar budaya. Dengan menggunakan peta interaktif, setiap objek budaya seperti bangunan, artefak, dan situs dapat dipetakan secara jelas dengan penandaan warna yang berbeda, misalnya titik merah untuk bangunan, biru untuk artefak, dan hijau untuk situs. Warna-warna ini tidak hanya memudahkan identifikasi kategori, tetapi juga memvisualisasikan keragaman elemen budaya dalam satu tampilan yang mudah diakses. Penambahan tooltip pada setiap titik yang memuat informasi penting seperti nama objek, tahun pendirian, status pelindungan, dan foto dokumentasi menjadi fitur kunci yang memperkaya konteks visual tanpa harus membuka dokumen terpisah. Dengan demikian, peta interaktif ini tidak hanya memperlihatkan posisi geografis cagar budaya, tetapi juga memberikan narasi singkat yang memperdalam pemahaman pengguna tentang nilai dan kondisi setiap objek. Penggunaan peta geospasial interaktif ini juga mendukung transparansi informasi dan memfasilitasi pengambilan keputusan berbasis data spasial secara akurat, sehingga menjadi alat strategis dalam pelestarian warisan budaya yang dinamis dan komprehensif.

Berikut ini adalah contoh prompt visualisasi peta geospasial interaktif kompleks: jenis, detail permintaan, dan output yang diharapkan. 

No.Jenis Visualisasi DataPromptAtribut / Detail yang DimintaOutput yang Diharapkan
1Peta Geospasial Interaktif - Multi Kategori & Layer DinamisBuat peta interaktif cagar budaya di Kabupaten X yang menampilkan kategori objek: bangunan (titik merah), artefak (titik biru), situs alam (titik hijau), dan kawasan bersejarah (poligon oranye transparan). Tambahkan layer zonasi perlindungan dan heatmap kondisi fisik 5 tahun terakhir. Sertakan tooltip yang memuat nama, tahun, status perlindungan, tingkat kerusakan, foto, dan narasi singkat. Fitur filter kategori, periode sejarah, status hukum, dan fungsi pencarian lokasi dengan koordinat desimal WGS84. Layout responsif dengan penyamaran koordinat sensitif.Kategori objek (warna dan simbol berbeda), layer zonasi dan heatmap, tooltip detail (nama, tahun, status, foto, kerusakan, narasi), filter interaktif (kategori, periode, status), pencarian lokasi (koordinat WGS84), tema warna budaya, keamanan data.Peta interaktif komprehensif dengan multi-layer dan fitur analisis yang mudah digunakan. Informasi lengkap dan kontekstual dengan perlindungan data sensitif. Memudahkan pengambilan keputusan dan edukasi budaya.
2Peta Geospasial dengan Timeline & Statistik PengunjungBuat peta interaktif cagar budaya di Kabupaten X dengan titik berwarna berdasarkan kategori (bangunan merah, artefak biru, situs alam hijau). Sertakan timeline visual perubahan kondisi fisik dan status perlindungan selama 20 tahun dengan grafik heatmap temporal. Tooltip berisi nama, tahun penemuan, status perlindungan, foto terbaru, dan statistik pengunjung. Tambahkan fitur filter kondisi, periode, dan pengunjung. Sediakan mode offline dan tampilan responsif mobile/desktop.Warna kategori objek, timeline kondisi & status, tooltip dengan data sejarah dan kunjungan, filter dinamis (periode, kondisi, pengunjung), mode offline, desain responsif.Visualisasi yang menampilkan dinamika perubahan fisik dan pemanfaatan situs secara temporal, dengan akses luas meskipun tanpa koneksi internet. Memudahkan monitoring kondisi dan pengelolaan kunjungan wisata.
3Peta Geospasial Interaktif dengan Rute Wisata & MultimediaBuat peta interaktif cagar budaya di Kabupaten X dengan titik bangunan (merah), artefak (biru), situs alam (hijau), dan jalur rute wisata (garis kuning). Tambahkan layer overlay zonasi budaya, kawasan rawan bencana, dan jaringan transportasi. Tooltip berisi nama, deskripsi sejarah, tahun berdiri, status perlindungan, foto, video 360°, dan tautan arsip digital. Lengkapi dengan fitur rute otomatis berdasarkan minat dan jarak. Fitur filter kategori, kondisi fisik, status hukum, dan dukungan tampilan offline di desktop / mobile.Titik dan garis berwarna sesuai kategori, layer tambahan overlay, tooltip multimedia (foto, video, arsip), rute otomatis, filter interaktif, dukungan offline, desain perangkat lintas platform.Peta integratif yang menggabungkan edukasi, pelestarian, dan pariwisata dengan elemen multimedia dan navigasi interaktif. Meningkatkan pengalaman pengguna dan mendukung pengelolaan serta promosi warisan budaya secara efektif dan inovatif.


Timeline Sejarah

Timeline sejarah merupakan salah satu teknik visualisasi penting yang digunakan untuk menyajikan urutan kronologis peristiwa terkait cagar budaya, mulai dari tahun penemuan hingga proses pemugaran. Dengan mengorganisasi informasi secara linear sesuai waktu, timeline memudahkan pemahaman perkembangan dan perubahan yang dialami suatu situs atau objek budaya. Penambahan deskripsi singkat pada setiap titik waktu menjaga fokus narasi agar tetap padat dan mudah dipahami, sementara foto arsip yang disisipkan memperkuat kredibilitas dan keautentikan data historis. Pendekatan ini tidak hanya membantu memperjelas konteks temporal dari cagar budaya, tetapi juga memperkaya pengalaman edukasi bagi masyarakat dan pengambil kebijakan, sehingga mendukung pelestarian yang lebih efektif dan terarah.

Berikut ini adalah contoh prompt visualisasi timeline sejarah: jenis, detail permintaan, dan output yang diharapkan. 

No.Jenis Visualisasi DataPromptAtribut / Detail yang DimintaOutput yang Diharapkan
1Timeline Sejarah KlasikBuat timeline dari tahun penemuan hingga pemugaran Cagar Budaya Y, sertakan deskripsi singkat untuk setiap peristiwa dan foto arsip di setiap titik waktu.Tahun peristiwa, deskripsi singkat per peristiwa, foto arsip terkaitTimeline kronologis yang jelas dengan informasi ringkas dan bukti visual yang mendukung keaslian narasi.
2Timeline dengan Narasi KontekstualBuat timeline komprehensif mulai dari penemuan, perubahan status, hingga pemugaran Cagar Budaya Y, setiap titik waktu dilengkapi dengan deskripsi konteks sejarah, tokoh terkait, dan foto arsip relevan.Tahun peristiwa, konteks sejarah singkat, tokoh penting, foto arsipTimeline informatif dengan detail konteks tambahan yang memperkaya pemahaman historis dan autentikasi visual.
3Timeline Interaktif dengan MultimediaBuat timeline interaktif Cagar Budaya Y dari penemuan hingga restorasi dengan deskripsi singkat, foto arsip, dan tautan video dokumentasi pada beberapa titik waktu penting.Tahun, deskripsi singkat, file foto arsip, tautan videoTimeline yang mendukung interaktivitas dan multimedia, meningkatkan keterlibatan dan pengalaman edukasi pengguna.



Dashboard Integratif (Interaktivitas Lanjutan)

Dashboard integratif dengan interaktivitas lanjutan merupakan solusi efektif dalam penyajian data cagar budaya yang menggabungkan berbagai elemen visual dalam satu tampilan terpadu. Dashboard ini biasanya memuat peta lokasi cagar budaya yang interaktif, grafik yang menampilkan jumlah objek berdasarkan kategori, serta foto-foto kondisi terbaru dari situs atau artefak terkait. Fitur filter berdasarkan periode sejarah dan status hukum sangat penting untuk memudahkan analisis yang lebih terarah dan spesifik, sehingga pengguna dapat mengeksplorasi data sesuai kebutuhan mereka. Dengan mengkombinasikan elemen-elemen tersebut dalam satu platform, dashboard tidak hanya membantu penyebaran informasi yang komprehensif dan mudah dipahami, tetapi juga berperan sebagai pusat informasi yang memfasilitasi pengambilan keputusan, monitoring pelestarian, dan edukasi publik secara lebih efektif. Pendekatan integratif ini mendukung transparansi data sekaligus meningkatkan partisipasi berbagai pemangku kepentingan dalam pelestarian warisan budaya.

Berikut ini adalah contoh prompt visualisasi dasboard: jenis, detail permintaan, dan output yang diharapkan. 

No.Jenis Visualisasi DataPromptAtribut / Detail yang DimintaOutput yang Diharapkan
1Dashboard Integratif DasarBuat dashboard interaktif yang memuat peta lokasi cagar budaya, grafik jumlah per kategori, dan foto kondisi terbaru. Sertakan fitur filter berdasarkan periode sejarah dan status hukum.Peta lokasi, grafik kategori, foto terbaru, filter periode sejarah, filter status hukumDashboard terpadu yang memudahkan analisis dan monitoring data cagar budaya secara visual dan interaktif.
2Dashboard dengan Grafik TrenKembangkan dashboard interaktif yang menampilkan peta lokasi cagar budaya, grafik tren jumlah objek dari waktu ke waktu per kategori, dan galeri foto kondisi terkini. Tambahkan filter berdasarkan tahun dan kategori objek.Peta lokasi, grafik tren waktu, kategori, galeri foto, filter tahun dan kategoriDashboard analitis yang menyediakan wawasan perubahan jumlah cagar budaya seiring waktu, dilengkapi visual terkini.
3Dashboard Komprehensif InteraktifBuat dashboard interaktif lengkap yang berisi peta lokasi cagar budaya dengan multi-layer (kategori, zona perlindungan), grafik jumlah per kategori dan status hukum, foto kondisi terbaru, serta filter lanjutan (periode, status hukum, kategori, area geografis).Multi-layer peta, grafik kategori dan status, foto terbaru, filter lanjutan (periode, status, kategori, area)Dashboard analitik dan pelaporan yang komprehensif, memudahkan evaluasi, pengambilan keputusan, dan edukasi publik.



Evaluasi & Etika Visualisasi

Evaluasi dan etika menjadi aspek penting dalam pengembangan visualisasi data cagar budaya untuk memastikan hasil yang akurat, menghormati nilai budaya, serta dapat diakses oleh beragam pengguna. Pendekatan kolaboratif multidisipliner sangat dianjurkan, melibatkan ahli budaya yang memahami konteks historis dan nilai lokal, teknisi visualisasi yang menguasai aspek teknis pembuatan visual, serta komunitas lokal sebagai pemilik dan penjaga warisan budaya tersebut. Perlindungan data sensitif menjadi prioritas, dengan langkah menyembunyikan koordinat lokasi rinci situs yang rentan terhadap perusakan agar tidak memberikan peluang eksploitasi atau kerusakan fisik. Transparansi data dan metode visualisasi juga wajib dijaga dengan menjelaskan sumber informasi dan teknik yang digunakan, sehingga memperkuat kredibilitas dan akuntabilitas. Keselarasan simbol dan warna harus dipastikan sesuai dengan nilai budaya setempat agar tidak menimbulkan kesalahan interpretasi atau pelecehan. Selain itu, uji aksesibilitas harus dilakukan untuk memastikan visualisasi dapat diakses dan dipahami oleh semua pengguna, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan, sehingga penyampaian informasi pelestarian budaya benar-benar inklusif dan berdampak luas.

Penutup

Sebagai penutup, visualisasi data dalam konteks cagar budaya tidak hanya berfungsi sebagai alat penyajian informasi, tetapi juga sebagai instrumen strategis yang esensial dalam mendukung pelestarian warisan budaya secara menyeluruh. Pengembangan visualisasi yang akurat, kontekstual, dan sensitif terhadap nilai-nilai budaya lokal menjadi kunci utama agar penyampaian narasi sejarah berjalan dengan autentik dan tidak menimbulkan distorsi atau konflik sosial. Pendekatan kolaboratif multidisipliner serta adopsi teknologi mutakhir seperti peta interaktif, timeline, dashboard integratif, hingga visualisasi 3D dan augmented reality memperkaya cara kita mengelola, memahami, dan menyebarkan pengetahuan tentang cagar budaya. Namun demikian, menjaga etika dan evaluasi melalui perlindungan data sensitif, transparansi metode, serta keselarasan simbol dengan nilai budaya tetap menjadi fondasi penting. Dengan demikian, visualisasi data cagar budaya bukan hanya menjadi sarana edukasi dan dokumentasi, tetapi juga alat vital dalam pengambilan keputusan dan pelestarian yang berkelanjutan demi mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi mendatang.

Sumber Tulisan 

Aji, I. P., et al. (2025). *Risiko distorsi sejarah akibat kesalahan visualisasi data cagar budaya*. [Laporan penelitian].

Bachtiar, R., & Jaelani, A. (2017). *Visualisasi data cagar budaya: Peta geospasial interaktif dan aplikasinya*. Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Buchholz, S. (2023). *Kolaborasi multidisiplin dalam pengembangan visualisasi heritage*. Jurnal Humaniora Indonesia, 18(2), 112-123.

Erlangga, D., Firdiansyah, T., et al. (2023). *Pemanfaatan teknologi 3D dan augmented reality dalam pelestarian budaya*. Jurnal Teknologi dan Budaya, 10(1), 45-60.

Firdiansyah, T. (2019). *Augmented reality sebagai media edukasi cagar budaya*. Skripsi, Universitas Gadjah Mada.

ITS. (2017). *Laporan pengembangan peta geospasial cagar budaya*. Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Juniardi, B. (2015). *Diagram tipologi dan klasifikasi dalam visualisasi cagar budaya*. Prosiding Seminar Nasional Arkeologi.

Minaee, S., et al. (2024). *Dashboard integratif dalam monitoring pelestarian cagar budaya*. Jurnal Sistem Informasi, 15(1), 75-90.

OpenAI. (2024). *Prinsip penulisan prompt untuk visualisasi data berbasis AI*. OpenAI Research Report.

Seruntingrum, M. (2023). *Heatmap kondisi fisik dan risiko kerusakan cagar budaya*. Jurnal Geospasial, 9(3), 150-162.

Utami, R. (2023). *Sensitivitas budaya dalam visualisasi warisan budaya*. Jurnal Antropologi Sosial, 7(1), 33-44.

Undip. (2023). *Pengembangan timeline sejarah untuk pelestarian cagar budaya*. Universitas Diponegoro.


Pendahuluan

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membawa transformasi bagi proses penelitian dan pelestarian cagar budaya dewasa ini. AI memungkinkan pengolahan data sejarah dan budaya dalam berbagai bentuk-mulai dari wawancara, dokumen arsip, inventarisasi benda dan bangunan, hingga data spasial dan visual dengan kecepatan dan skala yang sebelumnya sulit dicapai.

Potensi AI ini dapat dimanfaatkan secara optimal jika peneliti menguasai teknik penulisan prompt, yaitu instruksi spesifik yang secara tepat mengarahkan AI mengolah data sesuai karakteristik dan konteks budaya. Tanpa prompt yang terstruktur dan relevan, hasil AI berisiko kurang akurat, kehilangan konteks budaya, atau malah menyajikan informasi yang menyebar.

Artikel ini menyajikan panduan komprehensif penulisan prompt olah data cagar budaya, dilengkapi kajian pustaka terbaru dari bidang prompt engineering, contoh praktis berdasarkan jenis data cagar budaya, serta pembahasan penting tentang evaluasi hasil dan etika penggunaan AI. Tujuannya adalah membantu peneliti meningkatkan kualitas digitalisasi, analisis, dan pelaporan data warisan budaya dengan dukungan teknologi mutakhir.


Sebelum mengenal promp, alangkah baiknya kita mengetahui tentang kaidah-kaidah yang berhubungan dengan promp AI dan penelitian cagar budaya. Prompt merupakan instruksi atau masukan yang diberikan kepada AI untuk menjalankan tugas tertentu. Dalam konteks model bahasa besar (LLM) seperti ChatGPT, praktik mendesain prompt yang efektif disebut prompt engineering. Menurut Giray (2023), Ekin (2023), dan OpenAI (2024), prompt yang baik memiliki ciri-ciri utama. Pertama, promp memiliki karakter jelas dan spesifik. Setiap peneliti yang akan memberi instruksi AI untuk olah data cagar budaya, sebaiknya menggunakan bahasa yang tidak ambigu dan fokus pada satu tujuan pengolahan data. Kedua, promp ditulis deskriptif. Menjelaskan dengan rinci keluaran yang diharapkan termasuk format dan konteks adalah hal penting saat menulis deskripsi promp. Ketiga, terfokus pada satu tugas utama. Sebaiknya hindari multi-perintah dalam prompt yang sama untuk menjaga presisi AI. Keempat, menulis promp sebaiknya bersifat iteratif atau pengulangan. Melibatkan uji coba dan revisi secara berkala guna memperbaiki kualitas keluaran AI merupakan hal perlu dilakukan peneliti cagar budaya saat olah data. Studi terkini juga menyoroti pentingnya dokumentasi prompt yang sistematis dan pengaturan versi (prompt version control) agar kolaborasi antarpeneliti dan pengembang berjalan efisien serta hasil AI yang konsisten pada data, riset, metrik, atau pembahasan yang berbasis ukuran/parameter. 

Dalam hal peran AI dalam pengolahan data penelitian cagar budaya, AI telah menjadi katalisator utama dalam revolusi digital di bidang humaniora dan pelestarian budaya (Aji et al., 2025; Buchholz, 2023). Kemampuan utama AI dalam pengolahan data cagar budaya meliputi digitalisasi dokumen, transkripsi otomatis, analisis data besar dan pola kompleks, klasifikasi dan pengelompokan objek budaya, dan visualisasi data spasial yang interaktif. 

Digitalisasi dokumen dan transkripsi otomatis sangat membantu mempermudah proses wawancara serta pengelolaan naskah-naskah kuno. Analisis data besar dan pola yang kompleks dapat digunakan untuk mengelola data spasial, statistik kunjungan, serta atribut fisik dari cagar budaya. Selain itu, pengelompokan objek budaya memanfaatkan teknik pembelajaran mesin untuk mengenali dan mengkategorikan artefak secara akurat. Visualisasi data spasial yang interaktif juga mendukung pembuatan peta tematik dan dashboard untuk memantau perkembangan budaya secara efektif. Namun, Eduparx (2023) mengingatkan bahwa tanpa arahan (prompt) yang tepat dan pemahaman mendalam terhadap konteks budaya, kecerdasan buatan (AI) berisiko kehilangan sensitivitas historis dan menghasilkan output atau keluaran yang kurang relevan dengan kondisi lokal.

Selanjutnya dalam hal keunikan data cagar budaya dan tantangan olah data, data cagar budaya bersifat multidimensi dan kontekstual. AI dalam hal olah data cagar budaya, biasanya mencakup data tekstual, data kuantitatif, data spasial, dan data visual dan digital. Mengolah data tekstual mencakup data wawancara, arsip sejarah, laporan lapangan yang kaya informasi kualitatif dan naratif. Data kuantitatif mencakup olah data dalam bentuk statistik kunjungan, kondisi fisik, survei teknis, yang memerlukan komputasi numerik dan statistik. Data spasial yang dapat diolah AI mencakup koordinat GPS, peta batas wilayah yang menjadi dasar visualisasi dan analisis GIS. Serta Data visual dan digital yang dapat diolah oleh AI diantaranya foto, hasil pemindaian dan rekonstruksi artefak dan situs 3D. Keunikan ini menuntut penulisan prompt yang mengakomodasi aspek teknis dan budaya serta malware dalam pemrosesan data, agar AI memberikan hasil yang valid dan bermakna (Utami, 2023; Aji et al., 2025).

Untuk mengaktifkan AI dalam olah data cagar budaya, peneliti dapat menyesuaikan kaidah penulisan prompt olah data cagar budaya. Secara umum, dalam olah data, AI memiliki lima prinsip, yaitu spesifik dan terperinci, terfokus pada satu tugas, kontekstual dansensitif budaya, iterasi dan revisi, serta validasi manusia. Spesifik dan terperinci adalah menjelaskan dengan gamblang jenis data, proses yang diminta, dan format keluaran data. Terfokus pada satu tugas yaitu Prompt harus mengarahkan AI ke pekerjaan spesifik agar terhindar dari hasil yang kabur. Kontekstual dan sensitif budaya adalah memasukkan aspek sejarah, sosial budaya, dan sensitivitas data agar keluarannya relevan dan etis. Iterasi (pengulangan) dan revisi adalah pompt harus diuji dan disempurnakan berulang kali agar keluaran tepat guna. Serta prinsip validasi manusia yang dimaksud adalah output AI wajib dilakukan oleh ahli budaya untuk memastikan akurasi dan menghindari kesalahan interpretasi (Minaee et al., 2024). 

Pembahasan

Dalam hal olah data cagar budaya kerap terkendala data yang tersebar dan tidak terdokumentasi dengan baik. AI menawarkan cara cepat dan terstruktur untuk mengolah wawancara, dokumen sejarah, hingga inventarisasi fisik situs dan bangunan bersejarah. Meski begitu, teknologi ini tetap memerlukan prompt yang tepat, validasi pakar, dan prinsip etika agar hasilnya akurat serta menghormati nilai budaya asli. Pembahasan berikut memuat contoh prompt praktis yang dapat diterapkan pada beragam jenis data cagar budaya.

Contoh prompt berikut dibagi berdasarkan lima jenis data cagar budaya: data wawancara dan dokumen sejarah, data benda, data bangunan, data struktur, serta data situs. Masing-masing dilengkapi instruksi khusus untuk membantu proses transkripsi, ekstraksi informasi, penyusunan database, pembuatan deskripsi rinci, dan digitalisasi agar data lebih terstruktur dan mudah diakses.

Data Wawancara dan Dokumen Sejarah

Data ini mencakup hasil wawancara dengan masyarakat sekitar situs serta dokumen sejarah yang terkait. Instruksi prompt dapat digunakan untuk membantu proses transkripsi wawancara secara lengkap, termasuk konteks sosial-budaya yang relevan, serta mengekstrak informasi penting dari dokumen sejarah seperti nama tokoh, tanggal, dan konteks peristiwa secara ringkas.

Berikut ini adalah contoh penulisan prompt untuk olah data cagar budaya dalam bentuk data wawancara dan dokumen sejarah. 

NoJenis DataPromptAtribut / Detail yang DimintaOutput yang Diharapkan
1Transkripsi Wawancara“Transkripsikan data lengkap wawancara masyarakat di sekitar situs cagar budaya, sertakan konteks sosial dan budaya yang relevan.”- Isi wawancara lengkap
- Bahasa dan dialek lokal (jika ada)
- Konteks sosial dan budaya sekitar lokasi
Transkrip lengkap narasi wawancara dengan penjelasan konteks sosial dan budaya dalam format teks terstruktur (misal paragraf dengan catatan tambahan)
2Ekstraksi Informasi Dokumen“Ekstrak informasi penting dari dokumen sejarah cagar budaya seperti nama tokoh, tanggal, dan konteks peristiwa, dalam lima poin ringkas.”- Nama tokoh utama
- Tanggal atau periode waktu
- Lokasi atau tempat peristiwa
- Konteks dan latar belakang peristiwa
Ringkasan dalam lima poin terstruktur, bisa berupa daftar atau tabel dengan kolom nama tokoh, tanggal, dan konteks singkat
Data Benda Cagar Budaya

Meliputi koleksi fisik seperti artefak, kerajinan, atau benda bersejarah lainnya. Prompt difokuskan pada pembuatan database terstruktur yang memuat nama, bahan, fungsi, kondisi fisik, lokasi penemuan, dan nilai sejarah, serta deskripsi rinci berdasarkan survei lapangan. Digitalisasi katalog manual juga menjadi bagian penting agar informasi mudah diakses.

Berikut ini adalah contoh penulisan prompt untuk olah data cagar budaya dalam bentuk data benda cagar budaya. 
NoJenis DataPromptAtribut / Detail yang DimintaOutput yang Diharapkan
1Penyusunan Database“Susun database tersusun atas koleksi benda-benda cagar budaya yang mencakup nama, bahan, fungsi, kondisi fisik, lokasi penemuan, dan nilai sejarah.”- Nama benda
- Bahan pembuat
- Fungsi atau kegunaan
- Kondisi fisik saat inventarisasi
- Lokasi penemuan (alamat atau koordinat GPS)
- Nilai sejarah atau keterangan khusus
Database terstruktur (misal CSV atau JSON) lengkap dengan atribut yang diminta
2Deskripsi Rinci Benda“Buat deskripsi rinci benda cagar budaya menggunakan data survei lapangan yang memuat dimensi, umur, gaya seni, dan kondisi pelestarian.”- Dimensi (panjang, lebar, tinggi atau diameter)
- Perkiraan umur atau tahun pembuatan
- Gaya seni atau motif
- Kondisi pelestarian (baik, rusak, perlu perbaikan)
Narasi deskriptif detail yang menggambarkan benda berdasarkan data survei lapangan
3Digitalisasi Katalog“Digitalisasi data katalog manual benda cagar budaya ke format digital yang mudah diakses dan dicari.”- Data katalog manual (nama, foto, nomor registrasi, keterangan)
- Pengorganisasian data dalam format digital yang mudah pencarian dan sorting
Data katalog digital dalam format database atau spreadsheet yang user-friendly dan dapat dicari/filter

Data Bangunan Cagar Budaya

Data bangunan cagar budaya berfokus pada bangunan bersejarah seperti rumah tradisional, masjid tua, gedung kolonial, atau monumen. Prompt dapat mengarahkan proses inventarisasi lengkap dengan informasi arsitektur, bahan bangunan, status pelestarian, dan dokumentasi foto, serta integrasi dokumen pendukung ke dalam sistem informasi.

Berikut ini adalah contoh penulisan prompt untuk olah data cagar budaya dalam bentuk data bangunan cagar budaya. 

NoJenis DataPromptAtribut / Detail yang DimintaOutput yang Diharapkan
1Inventarisasi Bangunan“Inventarisasi bangunan cagar budaya dengan data lengkap seperti nama, alamat, tahun bangunan, arsitek, status pelestarian, dan kondisi fisik terkini.”- Nama bangunan
- Alamat lengkap
- Tahun pembangunan
- Nama arsitek (jika ada)
- Status pelestarian
- Kondisi fisik terkini
Database terstruktur berisi data lengkap atribut di atas, siap untuk pelaporan dan analisis
2Digitalisasi Survei“Digitalisasi hasil survei bangunan cagar budaya menjadi database dengan atribut desain, bahan bangunan, dokumentasi foto, dan lokasi GPS.”- Informasi desain arsitektur
- Jenis bahan bangunan inti
- Foto dokumentasi bangunan
- Koordinat GPS lokasi bangunan
Data digital terintegrasi, termasuk foto dan atribut teknis sebagai basis database pelestarian
3Integrasi Dokumen“Integrasikan data surat keputusan pelestarian bangunan dan dokumen pendukungnya ke dalam sistem informasi penutupan.”- Nomor dan tanggal surat keputusan
- Isi ringkas surat keputusan
- Dokumen pendukung seperti foto legal, peta, atau arsip digital
Data dokumen resmi terintegrasi dalam sistem informasi cagar budaya untuk akses dan pemantauan

Data Struktur Cagar Budaya

Data struktur cagar budaya mencakup konstruksi bersejarah non-bangunan seperti jembatan tua, terowongan, atau benteng. Prompt diarahkan untuk membuat database lengkap dengan atribut teknis dan lokasi, serta digitalisasi hasil inspeksi, foto detail, dan uji teknis material.

Berikut ini adalah contoh penulisan prompt untuk olah data cagar budaya dalam data struktur cagar budaya. 
NoJenis DataPromptAtribut / Detail yang DimintaOutput yang Diharapkan
1Database Struktur Cagar Budaya"Buat database struktur cagar budaya (jembatan, terowongan, benteng) dengan atribut nama, lokasi GPS, bahan konstruksi, tahun konstruksi, kondisi fisik, dan status pelestarian."- Nama struktur
- Lokasi GPS
- Bahan konstruksi
- Tahun konstruksi
- Kondisi fisik
- Status pelestarian
Database terstruktur (misalnya CSV atau JSON) berisi data lengkap atribut di atas
2Digitalisasi Hasil Inspeksi"Digitalisasi data hasil inspeksi lapangan, foto rinci, dan hasil uji teknis material dari struktur cagar budaya."- Data inspeksi lapangan
- Foto detail struktur
- Hasil uji teknis material
Data digital lengkap, termasuk foto dan hasil uji, terintegrasi dalam sistem database atau laporan digital
Data Situs Cagar Budaya

Data situs cagar budaya meliputi area atau lokasi yang memiliki nilai sejarah, arkeologi, atau keagamaan, seperti situs purbakala, bekas pemukiman kuno, atau kawasan relijius. Prompt berfungsi untuk inventarisasi detail, termasuk koordinat GPS, luas, tipe, temuan artefak, status perlindungan, serta digitalisasi peta batas dan dokumentasi lapangan.

Berikut ini adalah contoh penulisan prompt untuk olah data cagar budaya dalam bentuk data situs cagar budaya. 

NoJenis DataPromptAtribut / Detail yang DimintaOutput yang Diharapkan
1Inventarisasi Situs“Inventarisasi situs cagar budaya lengkap dengan nama, koordinat GPS, luas, tipe (purbakala, organisasi kuno, reliji), temuan artefak, dan status perlindungan hukum.”- Nama situs
- Koordinat GPS
- Luas area (m2 atau hektar)
- Tipe situs (prasejarah, organisasi kuno, religi)
- Temuan artefak
- Status perlindungan hukum
Database terstruktur berisi data lengkap atribut di atas, siap untuk pelaporan dan pemetaan
2Digitalisasi Survei“Digitalisasi survei lapangan cagar budaya dengan catatan observasi, dokumentasi foto, serta peta batas dalam format digital untuk pemantauan.”- Catatan survei lapangan (observasi detail)
- Dokumentasi foto terbaru
- Peta batas wilayah (digital, GIS)
Data digital termasuk dokumen observasi, foto, peta digital yang bisa dipakai untuk monitoring dan analisis



Menulis prompt yang efektif dalam pengolahan data cagar budaya memerlukan ketelitian dan kejelasan tujuan. Setiap prompt sebaiknya dirumuskan dengan kalimat singkat, jelas, dan hanya memuat satu sasaran utama agar instruksi mudah dipahami oleh AI. Format keluaran yang diinginkan, baik berupa tabel, narasi, grafik, peta, maupun laporan—perlu disebutkan secara eksplisit untuk memastikan hasil sesuai ekspektasi. Menambahkan konteks budaya dan tujuan penelitian akan membantu AI menghasilkan keluaran yang relevan dengan nilai-nilai lokal, sementara contoh data atau hasil yang diharapkan dapat menjadi panduan konkret. Proses ini tidak berhenti pada pembuatan awal, melainkan dilakukan secara iteratif melalui evaluasi dan perbaikan berdasarkan hasil awal. Karena AI memiliki potensi menghasilkan data bias atau keliru, hasil olahan perlu diverifikasi oleh pakar budaya atau sejarah, diuji silang dengan sumber data primer, dan disertai pencatatan revisi untuk menjaga kualitas berkelanjutan. Di samping itu, aspek etis tidak boleh diabaikan: melindungi privasi komunitas lokal, menghindari penyederhanaan yang mereduksi makna budaya, serta menyadari keterbatasan dan bias yang melekat pada model AI. Dengan prinsip-prinsip ini, AI dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai alat bantu yang mendukung, bukan menggantikan, peran manusia dalam pelestarian warisan budaya.

Penutup

Penulisan prompt yang tepat, terstruktur, dan kreatif menjadi fondasi utama dalam memanfaatkan AI untuk olah data cagar budaya secara efektif dan etis. Gabungan keahlian humaniora dan teknologi ini membuka peluang untuk mempercepat digitalisasi, memperdalam analisis, dan menghasilkan laporan berkualitas tinggi yang mendukung pelestarian budaya berkelanjutan di Indonesia.


Sumber Tulisan 

Abraham, I., & Supriyati, Y. (2022). Desain kuasi eksperimen dalam pendidikan: Literatur review . Jurnal Ilmiah Mandala Pendidikan, 8(3).
Aji, IS, dkk. (2025). Kecerdasan artifisial dalam arus informasi dan media .
Buchholz, S. (2023). Aplikasi AI dalam pelestarian warisan budaya. Jurnal Humaniora Digital .
Eduparx. (2023). AI dan transformasi digital dalam penelitian budaya.
Giray, L. (2023). Rekayasa prompt dalam kecerdasan buatan dan aplikasinya bagi pustakawan. Media Pustakawan , 31(3), 307-315.
Kemdikbud. (2024). Buku panduan penggunaan kecerdasan buatan di perguruan tinggi .
Minaee, S., dkk. (2024). Optimasi model bahasa besar dan teknik rekayasa prompt. Jurnal Penelitian Kecerdasan Buatan .
OpenAI. (2024). Praktik terbaik untuk desain prompt. Dokumentasi OpenAI.
Sabit Ekin, R. (2023). Prinsip-prinsip rekayasa cepat dalam sistem AI. Prosiding Konferensi Rekayasa AI .
Utami, D. (2023). Kajian literatur model prompt engineering ChatGPT dalam pendidikan tinggi. Repositori Universitas Terbuka .

 


Oleh Angga Hermansah*

Dasun, desa yang terletak di pesisir utara Pulau Jawa dengan garis pantai terpanjang se Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang, memiliki luas wilayah yang didominasi dengan pertambakan dengan batas wilayah yang dikelilingi oleh sungai dan lautan.  Dengan sendirinya, dalam pemenuhan hidupannya masyarakat Dasun banyak memanfaatkan potensi air yang ada. Air erat kaitannya dengan masyarakat kami, bermacam aktivitas mata pencaharian mereka geluti dan pedomani dalam mengelola perilaku air yang tak menentu. Dari aktivitas yang dilakukan secara terus menerus dengan interaksi yang harmonis antara manusia dan alam, maka pengetahuan terbentuk secara alami dan mengakar dalam jiwa dan menjelma dalam kehidupan masyarakat.

Dengan pengetahuan yang mengakar dalam masyarakat Dasun tersebut, menandakan bahwa Dasun bukanlah Desa yang baru terbentuk. Air yang menjadi elemen utama memberi isyarat bahwa wilayah tersebut merupakan bagian dari sistem peradaban kuno yang memiliki pola hubungan dengan air dan sungai yang sangat kuat. Letak geografis yang sangat potensial dengan sumber air yang melimpah membuat aktivitas masyarakat Dasun Khususnya bagi petani tambak sangat menjanjikan. Hal tersebut yang membuat Desa Dasun terkenal akan produk bandengnya yang dikelola secara organik dengan sistem irigasi tradisional. Selain bandeng, Dasun juga memiliki produk garam yang produksi lebih dari 70 tambak yang dikelola secara tradisional oleh masyarakat setempat.

Memori Kolektif Warga

Pengetahuan tradisional telah melekat dan menjadi bagian dari ingatan yang terus diingat dan diwariskan ke generasi selanjutnya. Dalam menunjang aktivitas mata pencaharian, pengetahuan pergantian mangsa (musim) menjadi salah satu sumber pengetahuan yang menggambarkan bahwa masyarakat pesisir Jawa memiliki hubungan vertikal dan horizontal.  Hubungan tersebut dapat diterjemahkan bahwa manusia memiliki keeratan  dalam hubungan interaksi dengan Sang Pencipta dan alam semesta untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Salah satu pengetahuan tradisional yang sering dijumpai di berbagai daerah dan desa yaitu tentang perhitungan musim atau mangsa.  Perhitungan musim seringkali menjadi pokok bahasan masyarakat desa, seperti masyarakat nelayan dan petani tambak di Desa Dasun yang sangat bergantung dengan musim dan cuaca. Kelompok nelayan perlu menghitung musim untuk menentukan waktu dan alat tangkap yang digunakan untuk pergi melaut. Dan juga para petani tambak yang memerlukan perhitungan musim untuk menentukan kapan memulai produksi garam atau mulai budidaya ikan bandeng. Pengetahuan tradisional yang berhubungan dengan kendali air inilah kemudian saya sebut dengan istilah Pranoto Banyu.

Pranoto Banyu merupakan pengetahuan dalam memahami dan menguasai pergantian dan penghitungan musim, perubahan pergerakan air sungai dan laut, tata cara pengelolaan tambak bandeng dan garam, serta tanda alam yang mempengaruhi musim tangkapan nelayan. Pengetahuan tersebut bagi masyarakat Dasun amat penting dalam menyiapkan segala sesuatu  hal, baik  tata cara, sikap dan perubahan yang akan terjadi pada alam. Pada akhirnya Pranoto Banyu menjadi praktik kebudayaan masyarakat Dasun dan bagian dari memori kolektif yang tersimpan di dalam pikiran dan perilaku manusianya.

Ruang Ekspresi Baru

Keluar dari khasanah pewarisan pengetahuan alami, ruang baru tercipta dalam kerja kolaboratif. Petani tambak yang biasanya hanya mengatur kualitas air tambak saat budidaya bandeng dan kerja keras berkeringat untuk menghasilkan sebutir kristal garam, dengan inisiatif Eggy Yunaedi sebagai perupa mencoba untuk meluaskan perspektif masyarakat terhadap fungsi garam. Berkolaborasi bersama Eggy Yunaedi petani garam memperlakukan garam sebagai media seni rupa alternatif yang berbicara tentang tambak dan kehidupan mereka sendiri.

Kolaborasi kali ini membawa nuansa baru bagi petani garam. Kegiatan kolaborasi pameran lukisan garam dilaksanakan di Sangkring Art Space Yogjakarta dengan kondisi suhu yang berbeda dengan wilayah pertambakan desa Dasun. Setelah pada tahun lalu membuat karya Bancaan Rupa, yang berbicara tentang elemen alam dan budaya yang mempengaruhi kehidupan petani garam, kali ini mereka mencoba menggarap tema besar Pranata Banyu yang mengusung dua musim peralihan yang dikenal oleh masyarakat Dasun dengan istilah Mongso Laboh dan Mongso Mareng. Pengetahuan yang kuat mengakar mengenai tanda-tanda alam dan perilaku hewan di dua fase pergantian musim kemarau ke musim penghujan atau sebaliknya itu, serta kearifan yang ada di dalamnya menjadi bahan bagi petani garam Dasun bersama Eggy Yunaedi untuk dituangkan dalam lukisan garam dalam Pameran Lukisan Garam Pranoto Banyu.

*) Warga Desa Dasun, Penulis buku Pemajuan Kebudayaan Desa Dasun dan Pranata Banyu

Foto : Tugino sedang melaksanakan aktivitas nganco di sungai Dasun (fotografer : A. Sholeh Syarifuddin, 2021)


Dalam kehidupan sehari hari kita tidak bisa lepas dengan namanya pengetahuan. Dari pengetahuan yang paling sederhana sampai dengan pengetahuan yang kompleks. Pengetahuan tanpa kita sadari memberikan pedoman tata kelola dalam kehidupan,lebih khusus masyarakat desa yang tetap eksis dalam mempertahankan, melestarikan, dan mempraktekkan pengetahuan tradisional dalam kehidupan sehari-hari. Desa sebagai salah satu akar besar budaya bangsa Indonesia telah memberikan kontribusi besar dalam kekayaan sumber pengetahuan tradisional yang telah ada sejak zaman dahulu. Akan tetapi pada saat ini pengetahuan tradisional sedikit demi sedikit mulai memudar, seiring dibarengi dengan munculnya pengetahuan modern yang memberikan kemudahan bagi setiap orang. Entah itu disengaja atau tidak, beberapa pengetahuan modern malah melemahkan kita dalam hal bertahan hidup menghadapi alam. Namun pengetahuan modern tetap diperlukan, akan tetapi sumber pengetahuan tradisional harus tetap eksis dan terus diwariskan dari generasi ke generasi dalam bentuk praktik-praktik budaya yang nyata.

Salah satu pengetahuan tradisional yang sering dijumpai di berbagai daerah dan desa yaitu tentang perhitungan musim atau mangsa.  Perhitungan musim seringkali menjadi pokok bahasan masyarakat desa, seperti masyarakat nelayan dan petani tambak di Desa Dasun yang sangat bergantung dengan musim dan cuaca. Kelompok nelayan perlu menghitung musim untuk menentukan waktu dan alat tangkap yang digunakan untuk pergi melaut. Dan juga para petani tambak yang memerlukan perhitungan musim untuk menentukan kapan memulai produksi garam atau mulai budidaya ikan bandeng. Pengetahuan tradisional yang berhubungan dengan kendali air inilah kemudian Penulis sebut dengan istilah pranoto banyu. 

Pranoto banyu merupakan pengetahuan dalam memahami dan menguasai pergantian dan penghitungan musim, perubahan pergerakan air sungai dan laut, tata cara pengelolaan tambak bandeng dan garam, serta tanda alam yang mempengaruhi musim tangkapan nelayan. Pengetahuan tersebut bagi masyarakat Dasun amat penting dalam menyiapkan segala sesuatu  hal, baik  tata cara, sikap dan perubahan yang akan terjadi pada alam. Hal ini menjadikan pranoto banyu sebagai praktik kebudayaan masyarakat Dasun dan bagian dari memori kolektif yang tersimpan di dalam pikiran dan perilaku manusianya.

Hadirnya buku ini merupakan upaya untuk merekam memori kolektif dan praktik kebudayaan yang melekat dalam masyarakat Dasun yang kaya akan pengetahuan maritim. Terdapat tujuh bab dalam mengungkap memori kolektif pranata banyu masyarakat Dasun. Bab pertama dan bab ketujuh merupakan cerita Penulis saat melakukan penelitian memori kolektif kolektif pranata banyu sekaligus gagasan keberlanjutan Penulis dalam merespon momori kolektif tersebut. Selebihnya buku ini disajikan lima bab untuk para Penutur memori kolektif dengan pranata banyu di Desa Dasun tepatnya mulai bab dua hingga bab enam. Lima bab tersebut disajikan penuturan Informan tentang pranata banyu tambak garam oleh Bapak Sutrisno, pranata banyu tambak bandeng oleh Mbah Sidiq, pranata banyu segoro lor yang dituturkan oleh Mbah Yono atau Mbah Yono, pranata banyu segoro tambak yang dituturkan oleh Pak Dhe Nanto, dan pranata banyu Kali Dasun  yang dituturkan oleh Pak Dhe Tono. 

Dalam menyajikan memori kolektif pranata banyu masyarakat desa Dasun, buku ini disuguhkan dalam bentuk teks percakapan antara penulis dan informan. Percakapan memori kolektif ini di transkrip tanpa adanya penambahan dan pengurangan. Dengan penyajian tersebut, diharapkan para Pembaca buku ini seolah-olah merasakan penuturan langsung di depan Informan. Dengan suguhan teks percakapan secara langsung juga, para Pembaca dapat secara merdeka dalam menginterpretasi tentang pranata banyu yang dimiliki masyarakat Dasun. Adapun informan dipilih sesuai dengan rekomendasi masyarakat serta pengamatan dari Penulis langsung tentang aktor-aktor dalam praktik kebudayaan pranata banyu. 

Pada hakikatnya, pembuatan buku ingin mengembalikan kepopuleran pengetahuan tradisional dalam bidang kemaritiman yang semakin lama semakin memudar. Padahal jika kita tarik ke belakang pada zaman kerajaan Majapahit, letak kekuatan bangsa kita berada pada praktik kemaritiman yang fasih dan tangguh dengan didasari pengetahuan tradisional yang kuat dan mengakar. Untuk mengembalikan kekuatan dan kesohoran kemaritiman itu bisa dimulai dari dan dengan hal kecil, kita sebagai penerus, mau berinteraksi, mendengar,  bertanya, menanyakan ulang hasil penafsiran, menyebarluaskan, hingga mengajak generasi muda untuk melakukan pendataan memori kolektif yang dimiliki kelompok sosial khususnya tentang pranata banyu yang dimiliki masyarakat nelayan dan kelompok adat kemaritiman. , mampu menerjemahkan dan lebih baik lagi jika mampu mempraktekkan kembali dan meneruskan ke generasi selanjutnya.

Penulis ucapkan terimakasih dan salam hormat kepada para Informan yang telah menyampaikan memori kolektifnya tentang pranata banyu. Penulis juga ucapkan terimakasih kepada Pemerintah Desa Dasun yang selalu mensupport dalam proses pembuatan buku ini. Dan tak lupa juga, Penulis ucapkan terimakasih kepada keluarga dan teman-teman seperjuangan yang senantiasa mendukung dan memberikan semangat agar tetap terus berada di jalan pelestarian dan pemajuan kebudayaan agar nilai-nilai kebudayaan tetap terus diwariskan ke generasi selanjutnya.

Salam Lestari,,

Yogyakarta, 07 Maret 2024




Menurut Witasari (2015) dalam Astha Brata dan Pranata Mangsa: Alam dan Relasi Kuasa, pranata mangsa merupakan wujud harmonisasi hubungan antara manusia lingkungan alam-dan Tuhan Yang Maha Esa. Keyakinan petani Jawa, dan masyarakat tradisional lainnya adalah bentuk keyakinan atas cara Tuhan bekerja mengatur alam melalui tanda-tanda alam, sebagai bagian dari keseimbangan kosmologis. Bentuk keyakinan tersebut kemudian diekspresikan dalam keseharian masyarakat kita, diantaranya adalah ekspresi kapan mengolah lahan, jenis tanaman apa yang ditanam, hingga tradisi yang membersamainya masih berhubungan dengan keyakinan pranata yang dikuasainya. Perihal pranata mangsa, kita juga diingatkan Sitaningtyas (2018) dalam Nilai Luhur Pranata Mangsa Dalam Sistem Pertanian Modern. Jurnal Ilmiah Hijau Cendekia, 1(2), 28-32, agar kita tidak lupa, bahwa pranata mangsa merupakan warisan nenek moyang petani Jawa yang membagi musim menjadi 12 mangsa. Masing-masing mangsa menjadi pedoman untuk melakukan kegiatan budidaya pertanian. Kedua belas mangsa dibagi berdasarkan pergerakan bintang, pembagian itu meliputi kondisi cuaca, kondisi alam, kondisi psikologi masyarakat dan anjuran kegiatan pertanian yang dapat dilakukan. Dan lebih bangganya lagi, dalam studi Karjanto (2022) dalam Revisiting Indigenous Wisdom of Javanese Pranata mangsa. Comment on Zaki et al. Adaptation to Extreme Hydrological Events by Javanese Society through Local Knowledge. Sustainability 2020, 12, 10373. Sustainability, 14(15), 9632, menegaskan bahwa dengan memadukan pranata mangsa (memadukan kearifan lokal) dengan data ilmiah, masyarakat Jawa memiliki ketahanan yang lebih baik dalam beradaptasi terhadap kejadian hidrologi ekstrem yang terjadi akibat pemanasan global dan perubahan iklim.
 
Dalam catatan Sobirin (2018) tentang lini masa pranata mangsa dalam Pranata Mangsa dan Budaya Kearifan Lingkungan, sejarah  zaman  keemasan  sampai  pudarnya  pranata mangsa,  dapat  dibagi  dalam  lima periode. Periode pertama sekitar tahun 1817, ketika unsur-unsur  pranata  mangsa  telah  dimanfaatkan oleh petani untuk kegiatan pertaniannya. Periode kedua sekitar tahun 1855 ketika pranata mangsa  ditetapkan  oleh Sri  Paduka  Susuhunan Pakubuwono  VII  sebagai  kalender  resmi  pertanian.  Periode ketiga  sekitar  tahun  1920,  ketika pranata  mangsa  mulai  meleset  dengan  diketahui adanya  anomali  iklim.  Periode  keempat  sekitar tahun 1970-an hingga tahun 1990-an ketika pembangunan infrastruktur di   Pulau Jawa meningkat pesat, sehingga pranata mangsa banyak tidak tepatnya. Periode kelima sekitar  tahun  2000  hingga  terakhir  tahun  2016  ketika modernisasi  kehidupan  telah  merata  di  Pulau Jawa  dan  pranata  mangsa  tidak  lagi  dihiraukan lagi sebagai kalender pertanian.

Dalam catatan Prahmana dkk (2021) dalam Ethnomathematics: Pranata mangsa System and The Birth-Death Ceremonial in Yogyakarta, telah mengingatkan kita bahwa masyarakat Jawa memiliki pembagian musim sejumlah duabelas mangsa. Pranata mangsa tersebut diantaranya; Mangsa Kasa(Musim pertama), Mangsa Karo (Musim kedua), Mangsa Katelu (Musim ketiga), Mangsa Kapat (musim keempat), Mangsa Kalima (Musim kelima), Mangsa Kanem( musim keenam), Mangsa Kapitu (musim ketujuh), Mangsa Kawolu (musim kedelapan), Mangsa Kasanga (musim kesembilan), Mangsa Kasepuluh(Musim kesepuluh), dan Mangsa Sadha (Musim kedua belas). 

Pranata mangsa hingga sekarang masih difungsikan. Studi Khotimah (2019) melaporkan pranata mangsa masih digunakan oleh petani di Kecamatan Imogiri sebagai pengendali kegiatan pertanian. Menurut Khatimah, kegiatan para petani yang berhubungan dengan pranata mangsa diantara pengambilan keputusan dalam menentukan jenis penggunaan lahan, pergiliran tanaman, dan jenis tanaman dominan di dalamnya. Keberfungsian pranata mangsa juga terapkan untuk mitigasi bencana. Hal ini dapat dilihat studi Sobirin (2018) dimana Pada  zaman  dahulu,  banjir  dan  kekeringan  telah  ada,  tetapi  kemungkinan  terjadinya peristiwa  lingkungan  terkait  air  tersebut  dapat diprediksi  jauh  sebelumnya,  sesuai  seperti  yang tertulis  pada  mangsa-mangsa    tertentu    dalam  pranata  mangsa. Sejak lama pranata mangsa telah menjalin relasi dengan masyarakat, khususnya Jawa. Menurut Badrudin (2024) dalam kaitannya dengan pranata mangsa, masyarakat Jawa mempunyai konsep hubungan vertikal dan horizontal yang meliputi: konsep Tuhan, dunia/bumi, waktu, dan ruang. Melalui pranata mangsa, para petani menyelaraskan diri dengan kosmos dan alam. Dari tiga kajian tersebut, keberadaan pranata mangsa dalam keseharian masyarakat Jawa masih berfungsi baik karena membantu dalam memahami musim dan mitigasi bencana yang akan terjadi, karena adanya hubungan relasional dalam membangun pengetahuan tentang pemahaman musim yang dibalut dengan hubungan horizontal dan hubungan vertikal.

Namun dengan pusaran fungsi dan relasi kuat itu, ternyata pranata mangsa dalam keadaan terancam. Menurut studi FIdiyani dan Kamal (2012) pranata  mangsa yang masih menjadi patokan bercocok tanam ini, akan tetapi seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pranata mangsa mulai ditinggalkan. Ini merupakan ancaman terhadap eksistensi pranata mangsa sebagai warisan budaya bangsa. Adapun ancaman pranata mangsa diantaranya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, irigasi teknis yang telah tertata dengan baik, dan keengganan petani untuk mempelajari pranata mangsa karena kerumitan dalam penghitungannya. Seiring dengan berjalannya waktu, dimungkinkan masyarakat Jawa akan kehilangan kearifan lokal dalam memahami mangsa. Keunikan pengetahuan lokal yang diceritakan Riza (2018) tentang memahami musim dengan telapak kaki, dimana penentuan penanggalan pranata mangsa Jawa dengan metode “jam matahari horizontal” menggunakan telapak kaki seseorang yang dapat diandalkan untuk mendapatkan hasil yang akurat. Hal ini murni karena cara sebagian masyarakat Jawa menentukan pranata mangsa penanggalan Jawa secara langsung di lapangan. Keunikan pengetahuan lokal dalam memahami musim juga dapat dilihat studi yang publikasikan jurnal Intisari tentang tanda-tanda musim dari kicau burung, desir angin, hingga matahari. Beberapa kalangan menyebut pranata mangsa sebagai kombinasi ilmu dan pengalaman. Pasalnya, untuk memahami pranata mangsa, indra harus lihai menanggapi berbagai macam perubahan yang terjadi di alam. Para petani biasanya akan menggunakan tanda-tanda seperti kicau burung, desir angin, maupun cahaya matahari. Keunikan lagi adalah pengetahuan lokal dalam mengidentifikasi hama yang akan muncul di setiap musim. Studi tersebut telah dilakukan Wisnubroto (1997) dimana petani kita memiliki pengetahuan tentang terdapat hubungan antara indikator mangsa dengan intensitas serangan hama penggerek batang padi. Mungkin pengetahuan yang demikian akan segera hilang? 

Kritik Suwanto dkk (2010) dalam naskah Identifikasi Sains Asli (Indigenous Science) Sistem Pranata Mangsa Melalui Kajian Etnosains. In Prosiding Seminar Biologi dalam (Vol. 7, No. 1), melaporkan bahwa sebab generasi muda meninggalkan pranata mangsa karena perubahan profesi, kurangnya informasi, dan perubahan iklim. Bagaimana ketertarikan generasi muda menjadi petani? Apakah generasi muda disini memahami pranatamangsa? Apakah pranatamangsa memberi sumbangan dalam beradaptasi dengan perubahan iklim global saat ini? merupakah daftar pertanyaan belum terjawab. 

Walaupun demikian, kabar baik selalu datang seiring dengan rasa khawatir kita terhadap hilangkan pengetahuan lokal masyarakat tentang pranata musim ini. Kabar baik itu dapat kita jumpai pada studi Rahma dkk (2021) dimana pengetahuan pranata mangsa telah diadaptasikan dengan materi matematika. Pranata mangsa menjadi sumber belajar matematik. Selain pranata mangsa, Rahma juga menggunakan dan memadukan pengetahuan lokal masyarakat Yogyakarta dalam menggunakan pemodelan matematika untuk menentukan sistem musim dan tanggal pemakaman. Menurut Rahma, model-model ini berpotensi untuk digunakan sebagai titik tolak dalam pembelajaran matematika.

Kabar baik itu juga datang dari Kristoko dkk (2012) dalam pdated pranata mangsa: Recombination of local knowledge and agro meteorology using fuzzy logic for determining planting pattern. International Journal of Computer Science Issues (IJCSI), 9(6), 367, dimana telah dilakukan transformasi sosial pranata mangsa terhadap agrometeorologi. Kristoko menegaskan, sistem pranatamangsa baru yang bertujuan untuk menghasilkan prototype, simulasi rencana pola (periode 10 hari) dan perbandingan awal sistem pranatamangsa lama dan masa kini dengan menggunakan kombinasi sistem pranatamangsa dan pengetahuan agrometeorologi modern. Semoga saja dengan kabar baik (dalam ruang terbatas) ini pengetahuan pranata mangsa akan tetap terawat dikemudian.

Namun kabar baik itu tidak berlaku untuk pranata mangsa bagi para nelayan. Studi tentang pranata mangsa untuk nelayan masih langka ditemukan. Beberapa studi pranata mangsa menangkap ikan di laut dapat kita jumpai pada Partosuwiryo (2013) tentang Kajian Pranata Mangsa Sebagai Pedoman Penangkapan Ikan Di Samudra Hindia Selatan Jawa, Ardiansah (2019) tentang Perancangan Buku Visual Pranatamangsa Sebagai Pengetahuan Melaut dan Bercocok Tanam di Yogyakarta, Venia (2020) tentang Etnoastronomi masyarakat nelayan di Desa Bonang Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang. Keterbatasan studi tentang pranata mangsa ini jelas berbanding terbalik dengan potensi sumber daya laut kita miliki. Terlebih aktivitas di laut yang cenderung berisiko, maka kajian-kajian tentang pranata mangsa untuk untuk nelayan sudah saatnya dilakukan.  

Kajian pranata mangsa untuk nelayan, Penulis istilahkan Pranata Banyu. Maksud dari istilah pranata banyu merupakan pengetahuan yang meliputi pergantian dan penghitungan musim, perubahan pergerakan air sungai dan laut, tata cara pengelolaan tambak bandeng dan garam, serta tanda alam yang mempengaruhi musim tangkapan nelayan. Istilah tersebut Penulis munculkan sebagai pembeda dengan pranata mangsa yang dikenal selama ini oleh masyarakat agraris, selain itu pranata banyu bukan hanya membahas soal perhitungan musim ( mangsa ) melainkan juga tata kelola air untuk budidaya bandeng dan proses pembuatan garam.

Rujukan Tulisan 
  • Ardiansah, I. (2019). Perancangan Buku Visual Pranatamangsa Sebagai Pengetahuan Melaut dan Bercocok Tanam di Yogyakarta (Doctoral dissertation, Institut Seni Indonesia Yogyakarta). Dalam http://digilib.isi.ac.id/5817/. Diakses pada tanggal 19 Februari 2024, pukul 21.30 WIB. 
  • Badrudin, A. (2014). Pranata Mangsa Jawa (Cermin Pengetahuan Kolektif Masyarakat Petani/ nelayandi Jawa). http://repository.unej.ac.id/handle/123456789/83880. Sabtu, 17 Februari 2024; 11:15 wib
  • Intisari. https://intisari.grid.id/read/033855183/arti-pranata-mangsa-sebagai-salah-satu-ajaran-dalam-primbon-jawa-cocok-bagi-yang-punya-profesi-ini?page=all Senin, 19 Februari 2024; 22.58 WIB ---
  • Karjanto, N. (2022). Revisiting Indigenous Wisdom of Javanese Pranata mangsa. Comment on Zaki et al. Adaptation to Extreme Hydrological Events by Javanese Society through Local Knowledge. Sustainability 2020, 12, 10373. Sustainability, 14(15), 9632.  https://doi.org/10.3390/su14159632.   Sabtu, 17 Februari 2024; 22:04  wib.
  • Khotimah, N. (2019, November). Pranata mangsa and the sustainability of agricultural land resources management in Imogiri sub-district of Bantul regency. In IOP Conference Series: Earth and Environmental Science (Vol. 338, No. 1, p. 012029). IOP Publishing. doi:10.1088/1755-1315/338/1/012029. Sabtu, 17 Februari 2024; 12:06  wib  
  • Kristoko, H., Eko, S., Sri, Y., & Bistok, S. (2012). Updated pranata mangsa: Recombination of local knowledge and agro meteorology using fuzzy logic for determining planting pattern. International Journal of Computer Science Issues (IJCSI), 9(6), 367.  https://www.proquest.com/openview/35c8689ac7ab3f8e3b707b18c39a1030/1?pq-origsite=gscholar&cbl=55228. Sabtu, 17 Februari 2024; 12:29  wib
  • Partosuwiryo, S. (2013). Kajian Pranata Mangsa Sebagai Pedoman Penangkapan Ikan Di Samudra Hindia Selatan Jawa. Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada , 15 (1), 20-25. https://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=1235000&val=11977&title=. Minggu, 18 Februari 2024; 00:04 WIB.   Ali Badrudin, SS (2018). Mangsa Pranata Jawa (Disertasi Doktor, Universitas Gadjah Mada). Minggu, 18 Februari 2024; 00:08
  • Prahmana, R. C. I., Yunianto, W., Rosa, M., & Orey, D. C. (2021). Ethnomathematics: pranatamangsa system and the birth-death ceremonial in Yogyakarta. http://doi.org/10.22342/jme.12.1.11745.93-112. Sabtu, 17 Februari 2024; 11:45  wib
  • Retnowati, A. (2014). Culture and risk based water and land management in karst areas: an understanding of local knowledge in Gunungkidul, Java, Indonesia. https://core.ac.uk/download/pdf/56346214.pdf. Sabtu, 17 Februari 2024; 23:27 wib 
  • Riza, M. H. (2018). Sundial Horizontal dalam Penentuan Penanggalan Jawa Pranata Mangsa. Ulul Albab: Jurnal Studi dan Penelitian Hukum Islam, 2(1), 119-142. DOI: 10.30659/jua.v2i1.3016. Sabtu, 17 Februari 2024; 12:32  wib
  • Sarwanto, S., Budiharti, R., & Fitriana, D. (2010). Identifikasi Sains Asli (Indigenous Science) Sistem Pranata Mangsa Melalui Kajian Etnosains. In Prosiding Seminar Biologi (Vol. 7, No. 1). https://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/prosbio/article/view/1263/856. Sabtu, 17  Februari 2024; 22:51 wib.  
  • Sitaningtyas, H. A. P. F. (2018). Nilai Luhur Pranata Mangsa Dalam Sistem Pertanian Modern. Jurnal Ilmiah Hijau Cendekia, 1(2), 28-32.  https://ejournal.uniska-kediri.ac.id/index.php/HijauCendekia/article/view/120/100. Sabtu, 17 Februari 2024; 22:46  wib
  • Sobirin, S. (2018). Pranata Mangsa dan budaya kearifan lingkungan. Jurnal Budaya Nusantara, 2(1), 250-264.  https://doi.org/10.36456/b.nusantara.vol2.no1.a1719. Sabtu, 17 Februari 2024; 11:19 wib   Fidiyani, R., & Kamal, U. (2012). Penjabaran Hukum Alam Menurut Pikiran Orang Jawa Berdasarkan Pranata Mangsa. Jurnal Dinamika Hukum, 12(3), 421-436. http://dx.doi.org/10.20884/1.jdh.2012.12.3.117. Sabtu, 17 Februari 2024; 11:15 wib
  • Somya, R., & Bayu, T. I. (2013). Studi Etnografi Visual Kearifan Lokal Pranata Mangsa sebagai Perangkat Revitalisasi dan Pengembangan Model Pranata Mangsa Terbaharukan. https://repository.uksw.edu//handle/123456789/6258. Sabtu, 17 Februari 2024; 23:18 wib  
  • Wisnubroto, S. (1997). Sumbangan pengenalan waktu tradisional “pranata mangsa” pada pengelolaan hama terpadu. Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia, 4(1), 46-50. https://doi.org/10.22146/jpti.9881. Sabtu, 17 Februari 2024; 22:53 wib 
  • Witasari, N. (2015). Astha Brata dan Pranata Mangsa: Alam dan Relasi Kuasa dalam Konteks Agraria di Jawa. Paramita: Historical Studies Journal, 25(2), 225-237. https://doi.org/10.15294/paramita.v25i2.5138. Sabtu, 17 Februari 2024; 22:14  wib
  • Venia, Susan (2020) Etnoastronomi masyarakat nelayan di Desa Bonang Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang. Undergraduate (S1) thesis, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. Dalam https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/15945/. Dikases pada tanggal 17 Februari 2024, pukul 20.51 WIB. 
Penulis adalah Angga Hermansah, Dasun, Lasem

Contact Me

Contact With Me

Sejak awal berdirinya Dasun Heritage Society (DHS), Desa Dasun memiliki beragam kegiatan kreatif dalam melestarikan potensi alam dan budayanya. Mulai dari pendataan potensi, pembuatan film dokumenter, peningkatan literasi melalui perpustakaan, dukungan kegiatan kebudayaan, sampai penyusunan buku. Dasun Heritage Society (DHS) selalu menjadi yang terdepan mengidentifikasi, mengenalkan dan melestarikan warisan Desa Dasun.

  • Desa Dasun, RT 03/RW 01, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang
  • +62 895-4124-99678
  • pusakabaharidasun@gmail.com
  • https://pusakadasun.blogspot.com/