ai

My Blog

Latest blog

Pendahuluan 

Visualisasi data dalam konteks cagar budaya bukan sekadar alat presentasi yang memperindah penyajian informasi, melainkan juga merupakan instrumen penting dalam pelestarian pengetahuan sejarah, edukasi publik, dan pengambilan keputusan strategis terkait perlindungan warisan budaya. Sensitivitas budaya menjadi faktor krusial dalam proses visualisasi karena kesalahan dalam representasi visual dapat menimbulkan dampak serius, antara lain distorsi makna sejarah apabila simbol atau warna yang digunakan tidak sesuai dengan konteks budaya setempat, hingga pelecehan nilai lokal jika unsur visual menyinggung keyakinan atau tradisi masyarakat. Selain itu, penyebaran informasi sensitif seperti koordinat lokasi situs yang dibuka secara publik tanpa pengamanan dapat meningkatkan risiko perusakan fisik terhadap situs cagar budaya yang rentan.

Lebih jauh lagi, kesalahan visualisasi tidak hanya berdampak teknis tetapi juga sangat memengaruhi narasi identitas budaya dan aspek sosial-politik masyarakat. Narasi sejarah yang keliru berpotensi mengubah persepsi publik, memicu sengketa kepemilikan, serta menghasilkan interpretasi yang menyimpang dari fakta dan nilai budaya asli. Oleh karena itu, penulisan prompt yang tepat untuk menghasilkan visualisasi data cagar budaya yang akurat, kontekstual, dan sensitif menjadi langkah awal yang sangat penting sebagai fondasi dalam pengembangan teknologi digital ini. Sebelum membahas detail tentang penulisan prompt visualisasi data cagar budaya, berikut ini merupakan kaidah-kaidah tentang visualisasi data cagar budaya. 

Visualisasi data dalam konteks cagar budaya bukan hanya berfungsi sebagai media penyajian informasi, tetapi juga sebuah instrumen penting untuk pelestarian pengetahuan sejarah, edukasi publik, dan pengambilan keputusan strategis (Bachtiar & Jaelani, 2017). Keunikan data cagar budaya mengharuskan visualisasi memperhatikan sensitivitas budaya, akurasi spasial tinggi, dan narasi sejarah yang autentik agar tidak terjadi distorsi makna maupun pelecehan nilai lokal (Utami, 2023).

Jenis-jenis visualisasi yang sering digunakan dalam pelestarian cagar budaya mencakup beberapa bentuk yang mampu menyajikan data secara efektif dan kontekstual. Peta geospasial interaktif menjadi salah satu metode utama dengan menampilkan lokasi serta zonasi perlindungan situs, yang dilengkapi lapisan sejarah dan foto udara untuk mendukung pengelolaan dan akses data spasial secara komprehensif (Bachtiar & Jaelani, 2017; ITS, 2017). Selain itu, timeline sejarah menyajikan urutan kronologis peristiwa penting yang menghubungkan data spasial dengan konteks historis, sehingga memudahkan pemahaman aspek temporal dari warisan budaya (Undip, 2023). Diagram tipologi dan klasifikasi digunakan untuk mengelompokkan objek budaya berdasarkan periode, fungsi, dan material, dengan penggunaan ikon khas yang memperkuat nilai budaya lokal (Juniardi, 2015). Heatmap kondisi fisik memvisualisasikan area yang mengalami risiko kerusakan atau ancaman lingkungan, dan sering dipadukan dengan data cuaca terkini guna analisis pelestarian yang lebih akurat (Seruntingrum, 2023). Dashboard integratif menggabungkan berbagai komponen visual seperti peta, grafik, dan foto dalam satu platform interaktif, sehingga memudahkan monitoring dan pelaporan secara terpadu (Minaee et al., 2024). Terakhir, visualisasi 3D dan augmented reality (AR) memberikan pengalaman imersif bagi edukasi dan wisata virtual, walaupun memerlukan sumber daya teknis dan biaya yang lebih tinggi untuk implementasinya (Erlangga et al., 2023; Firdiansyah, 2019). Bersama-sama, jenis-jenis visualisasi ini memainkan peranan penting dalam memperkaya proses pelestarian dan penyebaran pengetahuan mengenai cagar budaya.

Penulisan prompt untuk visualisasi dengan kecerdasan buatan (AI) harus mengikuti prinsip-prinsip yang memastikan hasil visualisasi akurat, kontekstual, dan sensitif terhadap nilai budaya lokal. Pertama, tujuan visualisasi dan jenis grafik yang diinginkan harus dijelaskan secara eksplisit agar AI memiliki arah yang jelas dalam memproses data. Selanjutnya, variabel yang akan diplot dan format data wajib ditentukan dengan rinci untuk mencegah ambiguitas sehingga output data bisa sesuai ekspektasi. Penting juga untuk memasukkan konteks budaya dan narasi sejarah yang relevan agar hasil visualisasi memiliki sensitivitas terhadap lokalitas dan tidak menimbulkan kesalahan interpretasi budaya. Gaya visual yang digunakan harus disesuaikan dengan simbolisme budaya, seperti pemilihan warna dan ikon yang tepat, guna menghormati makna lokal. Selain itu, penulisan prompt sebaiknya menggunakan bahasa konkret yang jelas, serta dilakukan proses iteratif berupa pengujian dan revisi agar kualitas keluaran visualisasi semakin optimal dan sesuai kebutuhan (OpenAI, 2024; Minaee et al., 2024). Prinsip-prinsip ini mendukung terciptanya visualisasi yang tidak hanya informatif tetapi juga menghargai konteks historis dan kultural secara memadai.

Kesalahan dalam penulisan prompt atau implementasi visualisasi data cagar budaya berpotensi menimbulkan berbagai risiko serius, seperti distorsi sejarah dan narasi budaya yang dapat mengaburkan fakta atau nilai asli (Aji et al., 2025). Selain itu, penggunaan simbol atau warna yang tidak tepat dan tidak mempertimbangkan sensitivitas lokal dapat mengakibatkan pelecehan nilai budaya masyarakat setempat (Utami, 2023). Kesalahan spasial, misalnya ketidaktepatan penempatan lokasi yang signifikan, juga bisa memicu konflik sosial dan sengketa kepemilikan, yang berpotensi merusak harmoni komunitas (Seruntingrum, 2023). Untuk mengatasi risiko-risiko ini, mitigasi yang efektif dilakukan melalui proses validasi berlapis, melibatkan para pakar budaya yang memahami konteks sejarah dan sosial, teknisi GIS yang memastikan keakuratan data spasial, serta komunitas lokal yang menjadi pemilik nilai budaya tersebut. Selain itu, pengujian hasil visualisasi secara berulang menjadi kunci penting untuk memastikan keluaran visualisasi tidak hanya akurat secara teknis tetapi juga hormat terhadap kearifan lokal dan sensitivitas budaya (Minaee et al., 2024). Pendekatan kolaboratif dan iteratif ini merupakan fondasi utama dalam menjaga integritas dan keberlanjutan pelestarian cagar budaya melalui teknologi visualisasi.

Kolaborasi multidisipliner menjadi aspek krusial dalam pengembangan visualisasi data cagar budaya, karena melibatkan integrasi keahlian dari berbagai disiplin seperti humaniora, teknisi data, dan masyarakat lokal. Pendekatan terpadu ini memastikan bahwa visualisasi tidak hanya akurat secara teknis, tetapi juga sensitif terhadap konteks budaya dan sosial setempat, sehingga mendukung pelestarian yang lebih holistik dan berkelanjutan (Buchholz, 2023; Erlangga et al., 2023). Terlebih lagi, adopsi teknologi mutakhir seperti visualisasi 3D dan augmented reality (AR) menghadirkan tantangan besar, khususnya terkait kebutuhan biaya tinggi dan infrastruktur teknis yang memadai. Oleh karena itu, keberhasilan implementasi teknologi ini sangat bergantung pada pelatihan teknis yang memadai dan dukungan sumber daya yang kontinu, sehingga teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memperkaya pengalaman edukasi dan dokumentasi pelestarian budaya. Pendekatan kolaboratif dan kesiapan sumber daya teknis menjadi kunci keberlanjutan serta efektivitas teknologi canggih dalam menjaga dan mengkomunikasikan nilai-nilai warisan budaya kepada publik luas.

Pembahasan 

Dalam pengembangan visualisasi data cagar budaya dengan dukungan kecerdasan buatan (AI), penulisan prompt yang tepat menjadi kunci untuk menghasilkan output yang akurat, informatif, dan kontekstual. Contoh-contoh prompt berikut disusun berdasarkan jenis visualisasi yang sering digunakan dalam pelestarian budaya, seperti peta geospasial interaktif, timeline sejarah, dan dashboard integratif. Masing-masing contoh tidak hanya memperlihatkan struktur instruksi yang spesifik, tetapi juga disertai alasan pemilihan elemen visual dan fitur interaktivitas yang berfungsi mengoptimalkan pemahaman pengguna dan menjaga sensitivitas terhadap konteks budaya. Dengan memahami contoh ini, peneliti dan praktisi dapat mengadaptasi atau menyusun prompt yang sesuai dengan kebutuhan data dan tujuan pelestarian yang diinginkan.

Contoh Prompt Per Jenis Visualisasi

Peta Geospasial Interaktif

Peta geospasial interaktif merupakan salah satu bentuk visualisasi yang sangat efektif dalam pengelolaan dan pelestarian data cagar budaya. Dengan menggunakan peta interaktif, setiap objek budaya seperti bangunan, artefak, dan situs dapat dipetakan secara jelas dengan penandaan warna yang berbeda, misalnya titik merah untuk bangunan, biru untuk artefak, dan hijau untuk situs. Warna-warna ini tidak hanya memudahkan identifikasi kategori, tetapi juga memvisualisasikan keragaman elemen budaya dalam satu tampilan yang mudah diakses. Penambahan tooltip pada setiap titik yang memuat informasi penting seperti nama objek, tahun pendirian, status pelindungan, dan foto dokumentasi menjadi fitur kunci yang memperkaya konteks visual tanpa harus membuka dokumen terpisah. Dengan demikian, peta interaktif ini tidak hanya memperlihatkan posisi geografis cagar budaya, tetapi juga memberikan narasi singkat yang memperdalam pemahaman pengguna tentang nilai dan kondisi setiap objek. Penggunaan peta geospasial interaktif ini juga mendukung transparansi informasi dan memfasilitasi pengambilan keputusan berbasis data spasial secara akurat, sehingga menjadi alat strategis dalam pelestarian warisan budaya yang dinamis dan komprehensif.

Berikut ini adalah contoh prompt visualisasi peta geospasial interaktif kompleks: jenis, detail permintaan, dan output yang diharapkan. 

No.Jenis Visualisasi DataPromptAtribut / Detail yang DimintaOutput yang Diharapkan
1Peta Geospasial Interaktif - Multi Kategori & Layer DinamisBuat peta interaktif cagar budaya di Kabupaten X yang menampilkan kategori objek: bangunan (titik merah), artefak (titik biru), situs alam (titik hijau), dan kawasan bersejarah (poligon oranye transparan). Tambahkan layer zonasi perlindungan dan heatmap kondisi fisik 5 tahun terakhir. Sertakan tooltip yang memuat nama, tahun, status perlindungan, tingkat kerusakan, foto, dan narasi singkat. Fitur filter kategori, periode sejarah, status hukum, dan fungsi pencarian lokasi dengan koordinat desimal WGS84. Layout responsif dengan penyamaran koordinat sensitif.Kategori objek (warna dan simbol berbeda), layer zonasi dan heatmap, tooltip detail (nama, tahun, status, foto, kerusakan, narasi), filter interaktif (kategori, periode, status), pencarian lokasi (koordinat WGS84), tema warna budaya, keamanan data.Peta interaktif komprehensif dengan multi-layer dan fitur analisis yang mudah digunakan. Informasi lengkap dan kontekstual dengan perlindungan data sensitif. Memudahkan pengambilan keputusan dan edukasi budaya.
2Peta Geospasial dengan Timeline & Statistik PengunjungBuat peta interaktif cagar budaya di Kabupaten X dengan titik berwarna berdasarkan kategori (bangunan merah, artefak biru, situs alam hijau). Sertakan timeline visual perubahan kondisi fisik dan status perlindungan selama 20 tahun dengan grafik heatmap temporal. Tooltip berisi nama, tahun penemuan, status perlindungan, foto terbaru, dan statistik pengunjung. Tambahkan fitur filter kondisi, periode, dan pengunjung. Sediakan mode offline dan tampilan responsif mobile/desktop.Warna kategori objek, timeline kondisi & status, tooltip dengan data sejarah dan kunjungan, filter dinamis (periode, kondisi, pengunjung), mode offline, desain responsif.Visualisasi yang menampilkan dinamika perubahan fisik dan pemanfaatan situs secara temporal, dengan akses luas meskipun tanpa koneksi internet. Memudahkan monitoring kondisi dan pengelolaan kunjungan wisata.
3Peta Geospasial Interaktif dengan Rute Wisata & MultimediaBuat peta interaktif cagar budaya di Kabupaten X dengan titik bangunan (merah), artefak (biru), situs alam (hijau), dan jalur rute wisata (garis kuning). Tambahkan layer overlay zonasi budaya, kawasan rawan bencana, dan jaringan transportasi. Tooltip berisi nama, deskripsi sejarah, tahun berdiri, status perlindungan, foto, video 360°, dan tautan arsip digital. Lengkapi dengan fitur rute otomatis berdasarkan minat dan jarak. Fitur filter kategori, kondisi fisik, status hukum, dan dukungan tampilan offline di desktop / mobile.Titik dan garis berwarna sesuai kategori, layer tambahan overlay, tooltip multimedia (foto, video, arsip), rute otomatis, filter interaktif, dukungan offline, desain perangkat lintas platform.Peta integratif yang menggabungkan edukasi, pelestarian, dan pariwisata dengan elemen multimedia dan navigasi interaktif. Meningkatkan pengalaman pengguna dan mendukung pengelolaan serta promosi warisan budaya secara efektif dan inovatif.


Timeline Sejarah

Timeline sejarah merupakan salah satu teknik visualisasi penting yang digunakan untuk menyajikan urutan kronologis peristiwa terkait cagar budaya, mulai dari tahun penemuan hingga proses pemugaran. Dengan mengorganisasi informasi secara linear sesuai waktu, timeline memudahkan pemahaman perkembangan dan perubahan yang dialami suatu situs atau objek budaya. Penambahan deskripsi singkat pada setiap titik waktu menjaga fokus narasi agar tetap padat dan mudah dipahami, sementara foto arsip yang disisipkan memperkuat kredibilitas dan keautentikan data historis. Pendekatan ini tidak hanya membantu memperjelas konteks temporal dari cagar budaya, tetapi juga memperkaya pengalaman edukasi bagi masyarakat dan pengambil kebijakan, sehingga mendukung pelestarian yang lebih efektif dan terarah.

Berikut ini adalah contoh prompt visualisasi timeline sejarah: jenis, detail permintaan, dan output yang diharapkan. 

No.Jenis Visualisasi DataPromptAtribut / Detail yang DimintaOutput yang Diharapkan
1Timeline Sejarah KlasikBuat timeline dari tahun penemuan hingga pemugaran Cagar Budaya Y, sertakan deskripsi singkat untuk setiap peristiwa dan foto arsip di setiap titik waktu.Tahun peristiwa, deskripsi singkat per peristiwa, foto arsip terkaitTimeline kronologis yang jelas dengan informasi ringkas dan bukti visual yang mendukung keaslian narasi.
2Timeline dengan Narasi KontekstualBuat timeline komprehensif mulai dari penemuan, perubahan status, hingga pemugaran Cagar Budaya Y, setiap titik waktu dilengkapi dengan deskripsi konteks sejarah, tokoh terkait, dan foto arsip relevan.Tahun peristiwa, konteks sejarah singkat, tokoh penting, foto arsipTimeline informatif dengan detail konteks tambahan yang memperkaya pemahaman historis dan autentikasi visual.
3Timeline Interaktif dengan MultimediaBuat timeline interaktif Cagar Budaya Y dari penemuan hingga restorasi dengan deskripsi singkat, foto arsip, dan tautan video dokumentasi pada beberapa titik waktu penting.Tahun, deskripsi singkat, file foto arsip, tautan videoTimeline yang mendukung interaktivitas dan multimedia, meningkatkan keterlibatan dan pengalaman edukasi pengguna.



Dashboard Integratif (Interaktivitas Lanjutan)

Dashboard integratif dengan interaktivitas lanjutan merupakan solusi efektif dalam penyajian data cagar budaya yang menggabungkan berbagai elemen visual dalam satu tampilan terpadu. Dashboard ini biasanya memuat peta lokasi cagar budaya yang interaktif, grafik yang menampilkan jumlah objek berdasarkan kategori, serta foto-foto kondisi terbaru dari situs atau artefak terkait. Fitur filter berdasarkan periode sejarah dan status hukum sangat penting untuk memudahkan analisis yang lebih terarah dan spesifik, sehingga pengguna dapat mengeksplorasi data sesuai kebutuhan mereka. Dengan mengkombinasikan elemen-elemen tersebut dalam satu platform, dashboard tidak hanya membantu penyebaran informasi yang komprehensif dan mudah dipahami, tetapi juga berperan sebagai pusat informasi yang memfasilitasi pengambilan keputusan, monitoring pelestarian, dan edukasi publik secara lebih efektif. Pendekatan integratif ini mendukung transparansi data sekaligus meningkatkan partisipasi berbagai pemangku kepentingan dalam pelestarian warisan budaya.

Berikut ini adalah contoh prompt visualisasi dasboard: jenis, detail permintaan, dan output yang diharapkan. 

No.Jenis Visualisasi DataPromptAtribut / Detail yang DimintaOutput yang Diharapkan
1Dashboard Integratif DasarBuat dashboard interaktif yang memuat peta lokasi cagar budaya, grafik jumlah per kategori, dan foto kondisi terbaru. Sertakan fitur filter berdasarkan periode sejarah dan status hukum.Peta lokasi, grafik kategori, foto terbaru, filter periode sejarah, filter status hukumDashboard terpadu yang memudahkan analisis dan monitoring data cagar budaya secara visual dan interaktif.
2Dashboard dengan Grafik TrenKembangkan dashboard interaktif yang menampilkan peta lokasi cagar budaya, grafik tren jumlah objek dari waktu ke waktu per kategori, dan galeri foto kondisi terkini. Tambahkan filter berdasarkan tahun dan kategori objek.Peta lokasi, grafik tren waktu, kategori, galeri foto, filter tahun dan kategoriDashboard analitis yang menyediakan wawasan perubahan jumlah cagar budaya seiring waktu, dilengkapi visual terkini.
3Dashboard Komprehensif InteraktifBuat dashboard interaktif lengkap yang berisi peta lokasi cagar budaya dengan multi-layer (kategori, zona perlindungan), grafik jumlah per kategori dan status hukum, foto kondisi terbaru, serta filter lanjutan (periode, status hukum, kategori, area geografis).Multi-layer peta, grafik kategori dan status, foto terbaru, filter lanjutan (periode, status, kategori, area)Dashboard analitik dan pelaporan yang komprehensif, memudahkan evaluasi, pengambilan keputusan, dan edukasi publik.



Evaluasi & Etika Visualisasi

Evaluasi dan etika menjadi aspek penting dalam pengembangan visualisasi data cagar budaya untuk memastikan hasil yang akurat, menghormati nilai budaya, serta dapat diakses oleh beragam pengguna. Pendekatan kolaboratif multidisipliner sangat dianjurkan, melibatkan ahli budaya yang memahami konteks historis dan nilai lokal, teknisi visualisasi yang menguasai aspek teknis pembuatan visual, serta komunitas lokal sebagai pemilik dan penjaga warisan budaya tersebut. Perlindungan data sensitif menjadi prioritas, dengan langkah menyembunyikan koordinat lokasi rinci situs yang rentan terhadap perusakan agar tidak memberikan peluang eksploitasi atau kerusakan fisik. Transparansi data dan metode visualisasi juga wajib dijaga dengan menjelaskan sumber informasi dan teknik yang digunakan, sehingga memperkuat kredibilitas dan akuntabilitas. Keselarasan simbol dan warna harus dipastikan sesuai dengan nilai budaya setempat agar tidak menimbulkan kesalahan interpretasi atau pelecehan. Selain itu, uji aksesibilitas harus dilakukan untuk memastikan visualisasi dapat diakses dan dipahami oleh semua pengguna, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan, sehingga penyampaian informasi pelestarian budaya benar-benar inklusif dan berdampak luas.

Penutup

Sebagai penutup, visualisasi data dalam konteks cagar budaya tidak hanya berfungsi sebagai alat penyajian informasi, tetapi juga sebagai instrumen strategis yang esensial dalam mendukung pelestarian warisan budaya secara menyeluruh. Pengembangan visualisasi yang akurat, kontekstual, dan sensitif terhadap nilai-nilai budaya lokal menjadi kunci utama agar penyampaian narasi sejarah berjalan dengan autentik dan tidak menimbulkan distorsi atau konflik sosial. Pendekatan kolaboratif multidisipliner serta adopsi teknologi mutakhir seperti peta interaktif, timeline, dashboard integratif, hingga visualisasi 3D dan augmented reality memperkaya cara kita mengelola, memahami, dan menyebarkan pengetahuan tentang cagar budaya. Namun demikian, menjaga etika dan evaluasi melalui perlindungan data sensitif, transparansi metode, serta keselarasan simbol dengan nilai budaya tetap menjadi fondasi penting. Dengan demikian, visualisasi data cagar budaya bukan hanya menjadi sarana edukasi dan dokumentasi, tetapi juga alat vital dalam pengambilan keputusan dan pelestarian yang berkelanjutan demi mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi mendatang.

Sumber Tulisan 

Aji, I. P., et al. (2025). *Risiko distorsi sejarah akibat kesalahan visualisasi data cagar budaya*. [Laporan penelitian].

Bachtiar, R., & Jaelani, A. (2017). *Visualisasi data cagar budaya: Peta geospasial interaktif dan aplikasinya*. Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Buchholz, S. (2023). *Kolaborasi multidisiplin dalam pengembangan visualisasi heritage*. Jurnal Humaniora Indonesia, 18(2), 112-123.

Erlangga, D., Firdiansyah, T., et al. (2023). *Pemanfaatan teknologi 3D dan augmented reality dalam pelestarian budaya*. Jurnal Teknologi dan Budaya, 10(1), 45-60.

Firdiansyah, T. (2019). *Augmented reality sebagai media edukasi cagar budaya*. Skripsi, Universitas Gadjah Mada.

ITS. (2017). *Laporan pengembangan peta geospasial cagar budaya*. Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Juniardi, B. (2015). *Diagram tipologi dan klasifikasi dalam visualisasi cagar budaya*. Prosiding Seminar Nasional Arkeologi.

Minaee, S., et al. (2024). *Dashboard integratif dalam monitoring pelestarian cagar budaya*. Jurnal Sistem Informasi, 15(1), 75-90.

OpenAI. (2024). *Prinsip penulisan prompt untuk visualisasi data berbasis AI*. OpenAI Research Report.

Seruntingrum, M. (2023). *Heatmap kondisi fisik dan risiko kerusakan cagar budaya*. Jurnal Geospasial, 9(3), 150-162.

Utami, R. (2023). *Sensitivitas budaya dalam visualisasi warisan budaya*. Jurnal Antropologi Sosial, 7(1), 33-44.

Undip. (2023). *Pengembangan timeline sejarah untuk pelestarian cagar budaya*. Universitas Diponegoro.


Pendahuluan

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membawa transformasi bagi proses penelitian dan pelestarian cagar budaya dewasa ini. AI memungkinkan pengolahan data sejarah dan budaya dalam berbagai bentuk-mulai dari wawancara, dokumen arsip, inventarisasi benda dan bangunan, hingga data spasial dan visual dengan kecepatan dan skala yang sebelumnya sulit dicapai.

Potensi AI ini dapat dimanfaatkan secara optimal jika peneliti menguasai teknik penulisan prompt, yaitu instruksi spesifik yang secara tepat mengarahkan AI mengolah data sesuai karakteristik dan konteks budaya. Tanpa prompt yang terstruktur dan relevan, hasil AI berisiko kurang akurat, kehilangan konteks budaya, atau malah menyajikan informasi yang menyebar.

Artikel ini menyajikan panduan komprehensif penulisan prompt olah data cagar budaya, dilengkapi kajian pustaka terbaru dari bidang prompt engineering, contoh praktis berdasarkan jenis data cagar budaya, serta pembahasan penting tentang evaluasi hasil dan etika penggunaan AI. Tujuannya adalah membantu peneliti meningkatkan kualitas digitalisasi, analisis, dan pelaporan data warisan budaya dengan dukungan teknologi mutakhir.


Sebelum mengenal promp, alangkah baiknya kita mengetahui tentang kaidah-kaidah yang berhubungan dengan promp AI dan penelitian cagar budaya. Prompt merupakan instruksi atau masukan yang diberikan kepada AI untuk menjalankan tugas tertentu. Dalam konteks model bahasa besar (LLM) seperti ChatGPT, praktik mendesain prompt yang efektif disebut prompt engineering. Menurut Giray (2023), Ekin (2023), dan OpenAI (2024), prompt yang baik memiliki ciri-ciri utama. Pertama, promp memiliki karakter jelas dan spesifik. Setiap peneliti yang akan memberi instruksi AI untuk olah data cagar budaya, sebaiknya menggunakan bahasa yang tidak ambigu dan fokus pada satu tujuan pengolahan data. Kedua, promp ditulis deskriptif. Menjelaskan dengan rinci keluaran yang diharapkan termasuk format dan konteks adalah hal penting saat menulis deskripsi promp. Ketiga, terfokus pada satu tugas utama. Sebaiknya hindari multi-perintah dalam prompt yang sama untuk menjaga presisi AI. Keempat, menulis promp sebaiknya bersifat iteratif atau pengulangan. Melibatkan uji coba dan revisi secara berkala guna memperbaiki kualitas keluaran AI merupakan hal perlu dilakukan peneliti cagar budaya saat olah data. Studi terkini juga menyoroti pentingnya dokumentasi prompt yang sistematis dan pengaturan versi (prompt version control) agar kolaborasi antarpeneliti dan pengembang berjalan efisien serta hasil AI yang konsisten pada data, riset, metrik, atau pembahasan yang berbasis ukuran/parameter. 

Dalam hal peran AI dalam pengolahan data penelitian cagar budaya, AI telah menjadi katalisator utama dalam revolusi digital di bidang humaniora dan pelestarian budaya (Aji et al., 2025; Buchholz, 2023). Kemampuan utama AI dalam pengolahan data cagar budaya meliputi digitalisasi dokumen, transkripsi otomatis, analisis data besar dan pola kompleks, klasifikasi dan pengelompokan objek budaya, dan visualisasi data spasial yang interaktif. 

Digitalisasi dokumen dan transkripsi otomatis sangat membantu mempermudah proses wawancara serta pengelolaan naskah-naskah kuno. Analisis data besar dan pola yang kompleks dapat digunakan untuk mengelola data spasial, statistik kunjungan, serta atribut fisik dari cagar budaya. Selain itu, pengelompokan objek budaya memanfaatkan teknik pembelajaran mesin untuk mengenali dan mengkategorikan artefak secara akurat. Visualisasi data spasial yang interaktif juga mendukung pembuatan peta tematik dan dashboard untuk memantau perkembangan budaya secara efektif. Namun, Eduparx (2023) mengingatkan bahwa tanpa arahan (prompt) yang tepat dan pemahaman mendalam terhadap konteks budaya, kecerdasan buatan (AI) berisiko kehilangan sensitivitas historis dan menghasilkan output atau keluaran yang kurang relevan dengan kondisi lokal.

Selanjutnya dalam hal keunikan data cagar budaya dan tantangan olah data, data cagar budaya bersifat multidimensi dan kontekstual. AI dalam hal olah data cagar budaya, biasanya mencakup data tekstual, data kuantitatif, data spasial, dan data visual dan digital. Mengolah data tekstual mencakup data wawancara, arsip sejarah, laporan lapangan yang kaya informasi kualitatif dan naratif. Data kuantitatif mencakup olah data dalam bentuk statistik kunjungan, kondisi fisik, survei teknis, yang memerlukan komputasi numerik dan statistik. Data spasial yang dapat diolah AI mencakup koordinat GPS, peta batas wilayah yang menjadi dasar visualisasi dan analisis GIS. Serta Data visual dan digital yang dapat diolah oleh AI diantaranya foto, hasil pemindaian dan rekonstruksi artefak dan situs 3D. Keunikan ini menuntut penulisan prompt yang mengakomodasi aspek teknis dan budaya serta malware dalam pemrosesan data, agar AI memberikan hasil yang valid dan bermakna (Utami, 2023; Aji et al., 2025).

Untuk mengaktifkan AI dalam olah data cagar budaya, peneliti dapat menyesuaikan kaidah penulisan prompt olah data cagar budaya. Secara umum, dalam olah data, AI memiliki lima prinsip, yaitu spesifik dan terperinci, terfokus pada satu tugas, kontekstual dansensitif budaya, iterasi dan revisi, serta validasi manusia. Spesifik dan terperinci adalah menjelaskan dengan gamblang jenis data, proses yang diminta, dan format keluaran data. Terfokus pada satu tugas yaitu Prompt harus mengarahkan AI ke pekerjaan spesifik agar terhindar dari hasil yang kabur. Kontekstual dan sensitif budaya adalah memasukkan aspek sejarah, sosial budaya, dan sensitivitas data agar keluarannya relevan dan etis. Iterasi (pengulangan) dan revisi adalah pompt harus diuji dan disempurnakan berulang kali agar keluaran tepat guna. Serta prinsip validasi manusia yang dimaksud adalah output AI wajib dilakukan oleh ahli budaya untuk memastikan akurasi dan menghindari kesalahan interpretasi (Minaee et al., 2024). 

Pembahasan

Dalam hal olah data cagar budaya kerap terkendala data yang tersebar dan tidak terdokumentasi dengan baik. AI menawarkan cara cepat dan terstruktur untuk mengolah wawancara, dokumen sejarah, hingga inventarisasi fisik situs dan bangunan bersejarah. Meski begitu, teknologi ini tetap memerlukan prompt yang tepat, validasi pakar, dan prinsip etika agar hasilnya akurat serta menghormati nilai budaya asli. Pembahasan berikut memuat contoh prompt praktis yang dapat diterapkan pada beragam jenis data cagar budaya.

Contoh prompt berikut dibagi berdasarkan lima jenis data cagar budaya: data wawancara dan dokumen sejarah, data benda, data bangunan, data struktur, serta data situs. Masing-masing dilengkapi instruksi khusus untuk membantu proses transkripsi, ekstraksi informasi, penyusunan database, pembuatan deskripsi rinci, dan digitalisasi agar data lebih terstruktur dan mudah diakses.

Data Wawancara dan Dokumen Sejarah

Data ini mencakup hasil wawancara dengan masyarakat sekitar situs serta dokumen sejarah yang terkait. Instruksi prompt dapat digunakan untuk membantu proses transkripsi wawancara secara lengkap, termasuk konteks sosial-budaya yang relevan, serta mengekstrak informasi penting dari dokumen sejarah seperti nama tokoh, tanggal, dan konteks peristiwa secara ringkas.

Berikut ini adalah contoh penulisan prompt untuk olah data cagar budaya dalam bentuk data wawancara dan dokumen sejarah. 

NoJenis DataPromptAtribut / Detail yang DimintaOutput yang Diharapkan
1Transkripsi Wawancara“Transkripsikan data lengkap wawancara masyarakat di sekitar situs cagar budaya, sertakan konteks sosial dan budaya yang relevan.”- Isi wawancara lengkap
- Bahasa dan dialek lokal (jika ada)
- Konteks sosial dan budaya sekitar lokasi
Transkrip lengkap narasi wawancara dengan penjelasan konteks sosial dan budaya dalam format teks terstruktur (misal paragraf dengan catatan tambahan)
2Ekstraksi Informasi Dokumen“Ekstrak informasi penting dari dokumen sejarah cagar budaya seperti nama tokoh, tanggal, dan konteks peristiwa, dalam lima poin ringkas.”- Nama tokoh utama
- Tanggal atau periode waktu
- Lokasi atau tempat peristiwa
- Konteks dan latar belakang peristiwa
Ringkasan dalam lima poin terstruktur, bisa berupa daftar atau tabel dengan kolom nama tokoh, tanggal, dan konteks singkat
Data Benda Cagar Budaya

Meliputi koleksi fisik seperti artefak, kerajinan, atau benda bersejarah lainnya. Prompt difokuskan pada pembuatan database terstruktur yang memuat nama, bahan, fungsi, kondisi fisik, lokasi penemuan, dan nilai sejarah, serta deskripsi rinci berdasarkan survei lapangan. Digitalisasi katalog manual juga menjadi bagian penting agar informasi mudah diakses.

Berikut ini adalah contoh penulisan prompt untuk olah data cagar budaya dalam bentuk data benda cagar budaya. 
NoJenis DataPromptAtribut / Detail yang DimintaOutput yang Diharapkan
1Penyusunan Database“Susun database tersusun atas koleksi benda-benda cagar budaya yang mencakup nama, bahan, fungsi, kondisi fisik, lokasi penemuan, dan nilai sejarah.”- Nama benda
- Bahan pembuat
- Fungsi atau kegunaan
- Kondisi fisik saat inventarisasi
- Lokasi penemuan (alamat atau koordinat GPS)
- Nilai sejarah atau keterangan khusus
Database terstruktur (misal CSV atau JSON) lengkap dengan atribut yang diminta
2Deskripsi Rinci Benda“Buat deskripsi rinci benda cagar budaya menggunakan data survei lapangan yang memuat dimensi, umur, gaya seni, dan kondisi pelestarian.”- Dimensi (panjang, lebar, tinggi atau diameter)
- Perkiraan umur atau tahun pembuatan
- Gaya seni atau motif
- Kondisi pelestarian (baik, rusak, perlu perbaikan)
Narasi deskriptif detail yang menggambarkan benda berdasarkan data survei lapangan
3Digitalisasi Katalog“Digitalisasi data katalog manual benda cagar budaya ke format digital yang mudah diakses dan dicari.”- Data katalog manual (nama, foto, nomor registrasi, keterangan)
- Pengorganisasian data dalam format digital yang mudah pencarian dan sorting
Data katalog digital dalam format database atau spreadsheet yang user-friendly dan dapat dicari/filter

Data Bangunan Cagar Budaya

Data bangunan cagar budaya berfokus pada bangunan bersejarah seperti rumah tradisional, masjid tua, gedung kolonial, atau monumen. Prompt dapat mengarahkan proses inventarisasi lengkap dengan informasi arsitektur, bahan bangunan, status pelestarian, dan dokumentasi foto, serta integrasi dokumen pendukung ke dalam sistem informasi.

Berikut ini adalah contoh penulisan prompt untuk olah data cagar budaya dalam bentuk data bangunan cagar budaya. 

NoJenis DataPromptAtribut / Detail yang DimintaOutput yang Diharapkan
1Inventarisasi Bangunan“Inventarisasi bangunan cagar budaya dengan data lengkap seperti nama, alamat, tahun bangunan, arsitek, status pelestarian, dan kondisi fisik terkini.”- Nama bangunan
- Alamat lengkap
- Tahun pembangunan
- Nama arsitek (jika ada)
- Status pelestarian
- Kondisi fisik terkini
Database terstruktur berisi data lengkap atribut di atas, siap untuk pelaporan dan analisis
2Digitalisasi Survei“Digitalisasi hasil survei bangunan cagar budaya menjadi database dengan atribut desain, bahan bangunan, dokumentasi foto, dan lokasi GPS.”- Informasi desain arsitektur
- Jenis bahan bangunan inti
- Foto dokumentasi bangunan
- Koordinat GPS lokasi bangunan
Data digital terintegrasi, termasuk foto dan atribut teknis sebagai basis database pelestarian
3Integrasi Dokumen“Integrasikan data surat keputusan pelestarian bangunan dan dokumen pendukungnya ke dalam sistem informasi penutupan.”- Nomor dan tanggal surat keputusan
- Isi ringkas surat keputusan
- Dokumen pendukung seperti foto legal, peta, atau arsip digital
Data dokumen resmi terintegrasi dalam sistem informasi cagar budaya untuk akses dan pemantauan

Data Struktur Cagar Budaya

Data struktur cagar budaya mencakup konstruksi bersejarah non-bangunan seperti jembatan tua, terowongan, atau benteng. Prompt diarahkan untuk membuat database lengkap dengan atribut teknis dan lokasi, serta digitalisasi hasil inspeksi, foto detail, dan uji teknis material.

Berikut ini adalah contoh penulisan prompt untuk olah data cagar budaya dalam data struktur cagar budaya. 
NoJenis DataPromptAtribut / Detail yang DimintaOutput yang Diharapkan
1Database Struktur Cagar Budaya"Buat database struktur cagar budaya (jembatan, terowongan, benteng) dengan atribut nama, lokasi GPS, bahan konstruksi, tahun konstruksi, kondisi fisik, dan status pelestarian."- Nama struktur
- Lokasi GPS
- Bahan konstruksi
- Tahun konstruksi
- Kondisi fisik
- Status pelestarian
Database terstruktur (misalnya CSV atau JSON) berisi data lengkap atribut di atas
2Digitalisasi Hasil Inspeksi"Digitalisasi data hasil inspeksi lapangan, foto rinci, dan hasil uji teknis material dari struktur cagar budaya."- Data inspeksi lapangan
- Foto detail struktur
- Hasil uji teknis material
Data digital lengkap, termasuk foto dan hasil uji, terintegrasi dalam sistem database atau laporan digital
Data Situs Cagar Budaya

Data situs cagar budaya meliputi area atau lokasi yang memiliki nilai sejarah, arkeologi, atau keagamaan, seperti situs purbakala, bekas pemukiman kuno, atau kawasan relijius. Prompt berfungsi untuk inventarisasi detail, termasuk koordinat GPS, luas, tipe, temuan artefak, status perlindungan, serta digitalisasi peta batas dan dokumentasi lapangan.

Berikut ini adalah contoh penulisan prompt untuk olah data cagar budaya dalam bentuk data situs cagar budaya. 

NoJenis DataPromptAtribut / Detail yang DimintaOutput yang Diharapkan
1Inventarisasi Situs“Inventarisasi situs cagar budaya lengkap dengan nama, koordinat GPS, luas, tipe (purbakala, organisasi kuno, reliji), temuan artefak, dan status perlindungan hukum.”- Nama situs
- Koordinat GPS
- Luas area (m2 atau hektar)
- Tipe situs (prasejarah, organisasi kuno, religi)
- Temuan artefak
- Status perlindungan hukum
Database terstruktur berisi data lengkap atribut di atas, siap untuk pelaporan dan pemetaan
2Digitalisasi Survei“Digitalisasi survei lapangan cagar budaya dengan catatan observasi, dokumentasi foto, serta peta batas dalam format digital untuk pemantauan.”- Catatan survei lapangan (observasi detail)
- Dokumentasi foto terbaru
- Peta batas wilayah (digital, GIS)
Data digital termasuk dokumen observasi, foto, peta digital yang bisa dipakai untuk monitoring dan analisis



Menulis prompt yang efektif dalam pengolahan data cagar budaya memerlukan ketelitian dan kejelasan tujuan. Setiap prompt sebaiknya dirumuskan dengan kalimat singkat, jelas, dan hanya memuat satu sasaran utama agar instruksi mudah dipahami oleh AI. Format keluaran yang diinginkan, baik berupa tabel, narasi, grafik, peta, maupun laporan—perlu disebutkan secara eksplisit untuk memastikan hasil sesuai ekspektasi. Menambahkan konteks budaya dan tujuan penelitian akan membantu AI menghasilkan keluaran yang relevan dengan nilai-nilai lokal, sementara contoh data atau hasil yang diharapkan dapat menjadi panduan konkret. Proses ini tidak berhenti pada pembuatan awal, melainkan dilakukan secara iteratif melalui evaluasi dan perbaikan berdasarkan hasil awal. Karena AI memiliki potensi menghasilkan data bias atau keliru, hasil olahan perlu diverifikasi oleh pakar budaya atau sejarah, diuji silang dengan sumber data primer, dan disertai pencatatan revisi untuk menjaga kualitas berkelanjutan. Di samping itu, aspek etis tidak boleh diabaikan: melindungi privasi komunitas lokal, menghindari penyederhanaan yang mereduksi makna budaya, serta menyadari keterbatasan dan bias yang melekat pada model AI. Dengan prinsip-prinsip ini, AI dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai alat bantu yang mendukung, bukan menggantikan, peran manusia dalam pelestarian warisan budaya.

Penutup

Penulisan prompt yang tepat, terstruktur, dan kreatif menjadi fondasi utama dalam memanfaatkan AI untuk olah data cagar budaya secara efektif dan etis. Gabungan keahlian humaniora dan teknologi ini membuka peluang untuk mempercepat digitalisasi, memperdalam analisis, dan menghasilkan laporan berkualitas tinggi yang mendukung pelestarian budaya berkelanjutan di Indonesia.


Sumber Tulisan 

Abraham, I., & Supriyati, Y. (2022). Desain kuasi eksperimen dalam pendidikan: Literatur review . Jurnal Ilmiah Mandala Pendidikan, 8(3).
Aji, IS, dkk. (2025). Kecerdasan artifisial dalam arus informasi dan media .
Buchholz, S. (2023). Aplikasi AI dalam pelestarian warisan budaya. Jurnal Humaniora Digital .
Eduparx. (2023). AI dan transformasi digital dalam penelitian budaya.
Giray, L. (2023). Rekayasa prompt dalam kecerdasan buatan dan aplikasinya bagi pustakawan. Media Pustakawan , 31(3), 307-315.
Kemdikbud. (2024). Buku panduan penggunaan kecerdasan buatan di perguruan tinggi .
Minaee, S., dkk. (2024). Optimasi model bahasa besar dan teknik rekayasa prompt. Jurnal Penelitian Kecerdasan Buatan .
OpenAI. (2024). Praktik terbaik untuk desain prompt. Dokumentasi OpenAI.
Sabit Ekin, R. (2023). Prinsip-prinsip rekayasa cepat dalam sistem AI. Prosiding Konferensi Rekayasa AI .
Utami, D. (2023). Kajian literatur model prompt engineering ChatGPT dalam pendidikan tinggi. Repositori Universitas Terbuka .

Contact Me

Contact With Me

Sejak awal berdirinya Dasun Heritage Society (DHS), Desa Dasun memiliki beragam kegiatan kreatif dalam melestarikan potensi alam dan budayanya. Mulai dari pendataan potensi, pembuatan film dokumenter, peningkatan literasi melalui perpustakaan, dukungan kegiatan kebudayaan, sampai penyusunan buku. Dasun Heritage Society (DHS) selalu menjadi yang terdepan mengidentifikasi, mengenalkan dan melestarikan warisan Desa Dasun.

  • Desa Dasun, RT 03/RW 01, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang
  • +62 895-4124-99678
  • pusakabaharidasun@gmail.com
  • https://pusakadasun.blogspot.com/