Festival kebudayaan di Indonesia bukan sekadar ritual perayaan, melainkan medan dialektika antara pelestarian tradisi dan tuntutan relevansi kontemporer. Indonesia, dengan kekayaan budaya yang luar biasa, menyelenggarakan ribuan festival setiap tahun di berbagai daerah. Namun, tidak semua festival berdampak signifikan secara ekonomi dan sosial. Dari pengalaman Festival Kota Lama Semarang, kita belajar pentingnya mengadopsi praktik global—seperti model Edinburgh yang menghasilkan pengembalian ekonomi lima kali lipat dari investasi festival—untuk menjadikan festival bukan hanya perayaan tapi juga penggerak ekonomi lokal.
Dalam proses penyelenggaraan, sering muncul ketegangan antara mempertahankan kemurnian tradisi dan menjadikan festival relevan bagi generasi muda dan masa kini. Kurasi yang kuat sangat diperlukan agar substansi budaya—makna gerak, bunyi, simbol—terjaga tanpa kaku dan tetap komunikatif. Generasi muda mencoba inovasi melalui penggunaan elemen kontemporer seperti pencahayaan artistik dan musik modern, bukan untuk menggantikan tradisi, tapi memperluas interpretasi agar mudah dipahami.
Tren sejarah menunjukkan bahwa tradisi sejatinya adalah inovasi yang sudah teruji oleh waktu. Contoh batik, awalnya hanya kain tradisional kini berubah menjadi busana resmi yang diterima luas, menandai dinamika budaya yang hidup. Dialog kuratorial yang berimbang menjadi kunci agar pembaruan tidak kehilangan akar historis dan nilai-nilai budaya yang melekat.
Kesuksesan festival juga sangat bergantung pada dukungan struktural: logistik, peningkatan kapasitas teknis melalui pelatihan kurator dan pengelola, serta kebijakan yang profesional dan bebas dari politisasi. Visi pemerintah daerah, know-how teknis, dan hubungan harmonis antara pelaku budaya dan birokrasi menjadi faktor penentu kualitas dan keberlanjutan festival.
Partisipasi publik yang luas menjadi ujung tombak keberhasilan festival. Festival yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat, dari seniman sampai pelajar, sanggup menjadi ruang inklusif yang tidak hanya eksklusif bagi segelintir pihak. Festival adalah ruang sosial yang mempertemukan berbagai komunitas untuk berdialog, memperkuat solidaritas, dan membangun kesadaran kolektif.
Sebagai wahana demokrasi budaya, festival harus menempatkan identitas inklusif sebagai fondasi, membuka diri pada perubahan sekaligus setia pada akar historisnya. Dengan kesadaran kolektif ini, festival kebudayaan dapat berkelanjutan dan bermakna dalam konteks sosial-politik Indonesia saat ini.
+++
Sumber: Disarikan dari Hilmar Farid: Dinamika Festival Kebudayaan di di Tengah Masyarakat | JalinMinds (https://youtu.be/oVyUvzeOPXo)